Jumat, 04 Februari 2011

Pemuda Pemimpin Masa Depan

Pemuda adalah pemimpin masa depan, kita semua sudah teramat sepakat dengan slogan ini, hanya saja yang seringkali kita lupakan adalah pemuda yang bagaimana? Nah, lho!
Yuk let’s think together…. Pemuda? Masa Depan?
Pemuda? Yang terbetik dalam benak kita adalah sosok anak manusia yang masih berusia antara 20 tahun hingga 40 tahun (benarkah? Ini hanya asumsi penulis saja karena pada usia inilah Muhammad SAW memperoleh kedudukannya sebagai Rosululloh). Berkaca pada sejarah Rosululloh maka akan sangat tepat sekali jika kita katakan beliau adalah sosok pembelajar yang tangguh dalam perjuangan, istiqomah dalam keyakinan, dan penuh dengan cinta serta kesabaran. Bagaimana dengan pribadi pemimpin kita -kelak- di masa depan?
Masa depan? Masa yang tak terbayangkan oleh kita, masa yang penuh dengan ketidakpastian dan juga sudah dapat dipastikan masa depan itu akan datang menghampiri kita, apa yang harus kita siapkan untuk generasi muda sebagai calon pemimpin di masa depan?
Berharap pemuda kita baik, maka sangat tidak mungkin jika produk yang kita buat itu akan maksimal jika diperoleh dengan cara instan. Sangat tidak mungkin, karena ketahanan jiwa, kekuatan mental, dan juga semangat untuk terus berjuang itu adalah hasil pendidikan yang mengejawantah dalam diri kita, dan satu catatan bahwa semua itu memerlukan proses yang cukup lama bahkan sangat lama.
Pemuda yang bisa diharapkan kelak menjadi pemimpin adalah sosok pribadi pembelajar, manusia dengan talenta dan kesadaran penuh untuk selalu “belajar” dalam berbagai situasi dan kondisi yang melingkupinya, kenapa? Karena tak semua orang senang dengan kata belajar, bahkan banyak yang menutup telinga karena rasa ‘takut’ untuk berjumpa dengan hal – hal baru, yang terbayangkan di benak kita adalah belajar itu duduk diam dan berkonsentrasi tinggi terhadap suatu obyek, tenggelam bersamanya, dan paling ekstrim “mati” bersamanya. Na’udzubillah!
Belajar tak selamanya menyenangkan, ‘kejenuhan’ akan seringkali menyerang siapa pun pembelajar itu, maka sangat diperlukan ketrampilan – ketrampilan khusus untuk meredakan kejenuhan yang terjadi. Nilai ‘jenuh’ akan menduduki angka tertinggi untuk setiap asumsi pembelajar dibandingkan dengan yang ‘menikmati’ proses pembelajaran yang mereka jalani, maka satu pertanyaan tersembul, apakah ada yang salah dengan gaya belajar kita selama ini? Atau paling ekstrim sistem pembelajaran yang kita punya? Nah lho!
Madden (2002) dalam bukunya FIRE UP YOUR LEARNING menyatakan bahwa emosi yang dihasilkan dalam sistem limbic memperkuat memori jangka panjang. Oleh karena itu faktor emosional dapat digunakan dengan memanfaatkan emosi – emosi positif untuk meningkatkan proses belajar. Dimana emosi – emosi positif tersebut dapat diaktifkan lewat penggunaan drama, antusiasme, kontroversi kreatif, dan proyek – proyek tim.
Mencermati pernyataan di atas sangatlah tepat jika kita menyitir sebuah ayat Al-Qur’an surat As-Syams : 9 - 10

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Adapun hubungannnya dengan proses pembelajaran adalah jiwa yang tenang dengan emosional yang stabil dan bahkan mantap akan membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan. Sementara jika emosional kita tidak stabil, jiwa kita kotor maka akan sulit untuk menyerap pengetahuan baru.
Mari kita kembali kepada sejarah manusia agung Rosululloh SAW. Bagaimana beliau menjadi luar biasa karena proses pembelajaran yang diberikan oleh Alloh SWT kepada beliau juga luar biasa. Semoga dengan mengupas sedikit hikmah dari sejarah membuat kita kian cepat berlari dan senantiasa memperbaiki diri dengan niatan – niatan kita.
Semenjak bayi beliau sudah tak berayah, dan di masa kanak – kanak beliau harus kehilangan figur orang – orang yang dicintainya, bunda dan kakek yang menjadi pelindung buatnya, bukankah jika kita melihat hal ini dengan kacamata awam kita akan mengklaim adanya pribadi yang traumatis jika tidak tertangani dengan benar? Subhanalloh, memang hanya Alloh-lah yang menggenggam setiap jiwa.
Anugerah Alloh yang luar biasa adalah saat beliau berkhalwat di gua hiro’ dan mendapatkan wahyu untuk pertama kalinya pada malam 17 Ramadhan yang berbunyi

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[+],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
[+] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
Dalam banyak versi cerita, saat Jibril mengumandangkan Iqro’ Rosululloh ketakutan dan menolak, “Aku tidak bisa membaca!” teriak beliau, namun Jibril terus saja memaksa beliau hingga akhirnya beliau mengikuti dan menirukan kalam Alloh yang dikumandangkan Jibril untuk beliau.
Dan pada akhirnya pengetahuan mutakhir mengakuinya kalau saja belajar itu tak sekedar membaca buku dan menulis, namun juga membaca alam dan gejala – gejalanya, membaca manusia dengan berbagai karakternya, dan juga membaca kalamnya yang penuh hikmah.
Rosululloh adalah pembelajar ulung, pada usianya yang masih menyusui, beliau belajar ‘jauh’ dari orangtua untuk memperoleh lingkungan tumbuh yang baik di lingkungan bani Sa’ad. Tumbuh di lingkungan pedesaan yang tak terkontaminasi polusi budaya yang luar biasa kotornya saat itu, dalam penjagaan Halimatus Sa’diyah itu-lah beliau belajar dengan “REAL” bagaimana bertahan hidup di desa, dan juga bagaimana menggembalakan kambing.
Saat beliau kembali kepada ibundanya, beliau belajar tentang kebudayaan kaumnya yang mulia namun telah terkotori oleh nafsu angkara. Bunda terkasih pun tiada, beliau harus belajar menghadapi ‘kepahitan’ kehilangan orang yang dikasihi dan mengasihinya.
Berpindahlah asuhan Rosululloh kepada kakeknya Abdul Muttalib, namun sang kakek tak juga lama menemaninya, Abdul Muttalib pun kembali ke haribaanNYA. Asuhan Rosululloh pun berpindah ke tangan pamannya yang memiliki akhlak terbaik diantara keluarganya yakni Abu Thalib.
Bersama dengan Abu Thalib, Rosululloh dalam usianya yang ke sembilan tahun telah menempuh perjalanan jauh ke syam untuk mengikuti pamannya berdagang. Perjalanan yang menyenangkan dan penuh dengan ‘realitas’ mengejutkan, namun pribadi unggul yang dimilikinya semakin tampak cemerlang saja, hal itu terbukti dengan semakin banyak pelanggan yang mencarinya karena keluhuran budi pekerti yang dimilikinya.
Rosululloh menikah pada usia yang cukup matang, 25 tahun, menikah dengan janda bangsawan bernama Siti Khodijah yang telah menjadi rekanan bisnisnya selama beberapa waktu.
Hingga tiba-lah wahyu pertama yang disampaikan Jibril kepadanya, disusul dengan Al-Mudatsir yang menceritakan bagaimana Rosululloh ketakutan melihat Jibril dan berusaha bersembunyi darinya, lantas apa hubungannya dengan kita saat ini? Tentu saja ada banyak dan luar biasa! Amin Insyaalloh!
Apakah yang bisa kita petik dari sekelumit kisah tersebut? Setiap orang pada awalnya harus mampu menyelesaikan permasalahannya dengan perasaan – perasaannya sendiri agar mampu menjadi pembelajar handal. Dalam banyak kasus dapat kita lihat ada banyak pemuda yang memiliki potensi besar, namun masalah mereka adalah tak mampu mengeksplorasi diri mereka karena sebuah ‘batas’ yang dengan sengaja mereka ciptakan, dan batas itu ada dalam diri mereka, asumsi – asumsi negatif yang senantiasa berkembang dan pada akhirnya membunuh keberanian untuk ‘mencoba’.
Apabila masalah dengan perasaaan selesai, maka ketakutan pun akan menghilang tertiup angin lalu, nah saat itu-lah kita siap untuk diisi dengan berbagai pengetahuan untuk melanjutkan hidup dengan kondisi yang lebih baik lagi.
Kebutuhan lain yang harus diperhatikan adalah dorongan serta dukungan yang luar dari orang – orang dekat untuk selalu mengarahkan anak pada hal – hal positif yang memberikan manfaat untuknya. Sebuah buku yang berjudul AKSELERASI INTELEGENSI (Mengoptimalkan IQ, EQ, dan SQ secara Islami) menyatakan bahwa cinta adalah sumber akselerasi. Cinta orangtua bisa memberikan dorongan yang kuat bagi anak – anaknya untuk belajar dan menjadi orang cerdas. Dan cinta itu sendiri sangat layak menjadi landasan pembelajaran bagi orangtua kepada anak – anaknya. Orangtua tidak hanya mendorong anaknya untuk belajar, namun orangtua menjadikan diri mereka Guru, teladan yang langsung bisa dianut oleh anak – anaknya. Guru pertama yang mengajari anak tentang segala sesuatu yang ada di dunia, dan itu berlandaskan cinta.
Ayat – ayat Alloh adalah sumber pembelajaran. Ayat – ayat Alloh ada dua macam yaitu ayat – ayat Qouliyah yang berupa ayat – ayat yang termaktub dalam Al-Qur’an, dan ayat – ayat Kauniyah yang berupa alam semesta atau makhluk secara keseluruhan. Keduanya mempunyai fungsi pokok yang sama yakni menjadi ‘tanda – tanda’ keberadaan dan kekuasaan Alloh. Di sisi lain bisa juga merupakan sarana pembelajaran yang paling efektif bagi manusia dalam rangka mencapai kedewasaan dan kematangan bagi pikiran dan ruhaninya.
Ada banyak buku yang membahas tips dan trik untuk mengoptimalkan daya pikir kita agar menjadi pembelajar yang hebat, dan semuanya memberikan cara – cara yang luar biasa.
Ternyata setelah dikaji lebih lanjut maka yang paling ‘penting’ di antara yang terpenting adalah ‘kestabilan emosi’ saat berhadapan dengan hal baru dalam situasi dan kondisi tak terduga.
Jika mau sedikit berfikir, agaknya inilah kenapa Alloh SWT menyuruh kita sholat, kita harus sholat Dhuhur di tengah – tengahnya jam sibuk yang berarti gesekan emosional dengan orang lain lebih banyak dan pasti akan mengganggu kestabilan emosi kita, dengan sholat hati kembali sejuk dan kita bisa berhadapan dengan orang lain dengan warna yang lebih cerah.
Saat penat mendera setelah kerja, kita dipanggil untuk menunaikan sholat Ashar untuk menghapus kepenatan kita dengan menjumpaiNYA, pulang sampai di rumah, bersama – sama dengan keluarga berjama’ah maghrib, menghilangkan kepenatan dan mengisi dengan nuansa cinta dalam kebersamaan.
Saat menjelang tidur kita pun harus kembali menjumpaiNYA agar perasaan nyaman-lah yang tercipta saat kita menekuri malam dalam impian kita. Subhanalloh!
Ketika kita bangun, Alloh kembali memanggil kita untuk menunaikan Sholat Subuh, suatu bekal ruhani yang luar biasa untuk menghadapi tantangan dalam keseharian. Subhanalloh!
Dan itu semua takkan didapat dalam satu jam, satu malam, satu minggu, ataupun satu bulan, kesemuanya itu hanya bisa didapat dalam proses pembiasaan yang lama dan berkesinambungan, ternyata sekali lagi, keistiqomahan itu sangat diperlukan.
Selain keistiqomahan, maka kepiawaian kita untuk senantiasa mampu menghadirkan ‘ruh’ dalam setiap proses pembelajaran yang kita lakukan, dengan demikian insyaalloh kita adalah pembelajar yang handal. Satu hal lagi yang melengkapi semua itu, kesabaran dan kasih sayang .
Rosululloh adalah suri tauladan terbaik yang kita miliki, dalam sebuah oase disebutkan bagaimana sikap beliau saat bertemu dengan Hasan dan Husain di jalan sewaktu beliau akan bersilaturahmi kepada salah seorang sahabat. Dalam cerita itu Rosululloh merentangkan tangannya sambil memanggil – manggil kedua cucunya, beliau juga tak segan untuk mencium mereka sampai suatu ketika ada sahabat yang bertanya bagaimana mungkin Rosululloh mencium mereka sementara ia yang telah memiliki banyak anak tak sekalipun pernah mencium mereka, maka Rosululloh pun bersabda, “berikan hak mereka, pulanglah dan cium anak – anakmu sebagaimana yang kulakukan pada cucu – cucuku.”.
Luar biasa bukan? Apa hikmah yang bisa kita ambil? Jika seorang manusia semulia Rosululloh saja melakukan hal itu untuk menumbuhkan rasa aman dan juga membangun kenyamanan dalam berinteraksi dengan kedua cucunya, bagaimanakah potret pemimpin kita di masa depan?
Coba kita tengok apa yang terjadi pada saat Rosululloh menjadi imam sholat bagi sahabat – sahabatnya, beliau sujud begitu lama sehingga para sahabat menyangka kalau – kalau saja Rosululloh mendapatkan wahyu, namun apa yang sesungguhnya terjadi? Sujud yang lama itu terjadi karena Hasan dan Husain tengah menaiki punggungnya, saat hal itu diprotes oleh seorang sahabat apa jawab beliau, “Aku sujud lama untuk membiarkan mereka menyelesaikan hajatnya....”
Kalau begitu ayo kita simpulkan kira – kira pemuda seperti apa yang kita inginkan memimpin kita di masa depan?
1. Sosok pembelajar yang tangguh,
2. Kematangan emosi yang teruji,
3. Keistiqomahan yang terjaga,
4. Kepiawaian untuk senantiasa mampu menghadirkan ‘ruh’ dalam setiap keputusan yang diambil dan dilaksanakan,
5. Kesabaran dan kasih sayang yang selalu melambari setiap keputusannya.
Kita adalah pemuda, berarti kita adalah calon pemmpin masa depan, maka satu pertanyaan yang patut kita fikirkan jawabannya, sudahkah semua kriteria itu ada dalam diri kita?

make your own world

sedih ngelihat anak2ku yg ga nyaman dg paksaan ortunya, memang mrk ga salah2 banget c, tapi.... kenapa tak tanya alasan anaknya ga mau melakukan sesuatu? hmhhh....

kadang guru juga dipaksa ikut maksa anaknya, alhasil anak marah karena merasa terancam keberadaannya....

dg berat hati saya bilang, "maaf ya bunda, biarkan putranya dg ketakmauannya, jgn dipaksa, nanti qta akan bantu mengarahkannya pelan2...."

dg kecewa sang bunda bilang gpp...

"make your own world son, remember we're here to bring joy 4u"

Rabu, 08 Desember 2010

MOM'S GO BLOGGING - Hobby Membaca Anakku, menakjubkan!

Sebagai Bunda, aku suka kewalahan menghadapi animo zakki yang luar biasa terhadap buku, bayangkan saja bangun tidur, duduk anguk – anguk terus mengambil buku dan bilang “Nda, baca!” dengan ketidak ceto-annya, tapi aku mengerti maksudnya, terus begitu sampai aku benar – benar membacakan buku itu untuknya. Zakki tahu apabila aku cuma asal – asalan membacakan buku untuknya, dia akan menangis marah, jadi deh semua ditunda demi membacakan buku buat zakki. Belum lagi kalau aku sedang beraktivitas di dapur, dia datang dengan buku yang diinginkannya untuk dibaca, maka ia akan terus merengek agar aku membacakan buku itu untuknya. Subhanalloh!

Dari hari ke hari buku kesukaannya semakin beragam, tapi yang paling disukainya adalah “the tale of peter rabbit” dan “cerita 25 Nabi dan Rosul”.

Suatu pagi di hari sabtu, pagi yang cukup sibuk kurasa, aku beraktivitas di dapur dan seperti biasa program TV “spongebob” kunyalakan, dia tidak tertarik, dia mengambil buku di rak dipan, kembali ke depan TV dan membelakanginya, kakinya diselonjorkan dengan relaks, buku “25 Nabi dan Rosul” diletakkan di atas kakinya dan mulailah dia bereksplorasi, giliranku yang terkejut dan menghentikan aktivitasku, kudekati dia dan mulai menikmati setiap mimiknya saat ‘membaca’ buku itu, dan subhanalloh! Dia duduk sambil mengeksplorasi buku itu sekitar 15 menit! Di usianya -kala itu- yang masih 19 bulan?

Wow! It’s amazing things kan? Yah, paling tidak buat bunda-nya yang masih belum begitu ‘pandai’ menjalankan peran sebagaimana bunda – bunda yang senior. Akhirnya aku berusaha memfasilitasinya, kusediakan waktu ‘lebih khusus’ lagi untuk ‘membantu’-nya ‘merangsang’ kesukaannya, dan hari ini pun dia meluangkan waktu ‘membaca’ sendiri sambil kutemani selama lebih kurang 15 menit.

Zakki adalah sumber ‘energi’ untukku yang kadang ‘membakar’, namun terkadang juga membuatku ‘terbakar’, jadi ibu memang sebuah ‘profesi’ luar biasa. Kuacungkan jempol bagi semua ibu yang telah mendampingi anak – anaknya, sebuah ‘prestasi’ tersendiri yang sangat luar biasa. Satu ‘semangat’ kecilnya terasa begitu menyenangkan meski kadang ‘capek’ juga mengikuti kemauannya yang sangat dinamis. Aku sering bertanya dalam hati bagaimana dengan para ummahat yang memiliki ‘anugerah’ yang luar biasa juga dengan jumlah yang ‘luar biasa’ namun tetap menghadapi semuanya dengan ‘senyum’? Ya Alloh…. Izinkan aku, tiupkan dalam hatiku kesabaran dan keteduhan sehingga yang hadir hanyalah senyuman buat anak – anakku khususnya my lovely zakki 
Amiiin….

Senin, 06 Desember 2010

Catatan Kecil

Damaikan Hati 

Sejak beberapa waktu lalu aku merasa “marah” (boleh kan marah? Asal tetap cantik mengelolanya). Hmmm…. Apa pasal? Pada akhirnya Alloh menunjukkan juga apa yang selalu membuatku “tertinggal”, ya… sebagai sesama guru, kufikir memang tak ada yang perlu dirisaukan kecuali untuk bersaing sehat memenangkan kuota sertifikasi. Toh, jika Alloh menunjuk, maka siapa pun takkan mampu untuk memalingkannya.

Sertifikasi? Hampir setiap guru swasta sangat mendambakannya, dengan berbagai niat dan latar belakang, dan pastinya akan berujung pada kesejahteraan .

Aku kecewa pada apa yang aku dapati saat workshop data EMIS yang diadakan Mapenda sabtu kemarin, saat aku mulai menyimak data yang harus kumasukkan, aku tertegun, seluruh data temanku telponnya berbasis Handphone dan hanya satu – satunya punyaku yang berbasis telepon rumah, padahal hampir semua tahu kalau aku lebih gampang dihubungi lewat HP.

Aku memang selalu dinamis mengikuti segala perkembangan yang memungkinkan, karena basis pendidikanku bukanlah untuk terjun ke dunia pendidikan, aku rajin ikut workshop, diklat, seminar, dan lomba. Harapanku aku akan mendapatkan “pencerahan” dan pada akhirnya akan membuatku semakin mengenal dunia anak – anak yang kugeluti sekarang.

Segala biaya yang kukeluarkan untuk setiap aktivitas yang kusebut di atas 80% adalah biaya pribadi, sesekali RA tempatku mengajar yang mengirimku (tahu diri-lah aku, bagaimana mungkin aku selalu minta sementara aku belum mampu member yang terbaik ).

Bukan untuk sombong, bukan pula untuk gagah – gagahan, namun semakin lama aku merasa ada acces yang tertutup, padahal ku ingin sekali “ilmu”-ku terus berkembang. Aku adalah pembelajar perpaduan namun dominan visual, jika aku melihat maka aku akan terus mengingat.

Beberapa kali aku menjuarai lomba tingkat kecamatan, kemudian kabupaten, kemudian boleh-lah dibilang nasional, meski hanya mendapat hadiah hiburan. Dan beberapa kali mendengar bisik- bisik teman yang lolos sertifikasi, atau yang tengah berproses untuk sertifikasi, aku mulai menyiapkan keseluruhan berkas yang sekiranya akan kuperlukan nanti, alhasil lumayan, aku tidak akan terlalu kebingungan jika sertifikasi menghampiriku.

Namun setelah terakhir kali aku bertanding di TOTY (teacher of the year) yang diadakan Erlangga 4 Kids bekerjasama dengan IGTKI Kabupaten Malang, dan Alhamdulillah dapat harapan I, aku mulai merasa ada acces yang tertutup, meski begitu aku getol saja ikut lomba lewat internet, toh bukan menang atau kalahnya, akan tetapi kebahagiaan akan ide yang tersalurkan dan juga mengasah kemampuan, pantang menyerah.

Akhirnya aku tahu jika terkadang pusat (entah pusat yang mana) kadangkala langsung menelpon orang per orang dalam suatu tugas mendadak atau juga diklat – diklat di daerah.

Alhasil, aku tahu nomer rumah yang terpasang, bukan aku marah karena hal ini, akan tetapi tak ada-kah cara cantik untuk bersaing secara sehat denganku? Apakah kehadiranku terasa begitu mengancam?

Minggu, 05 Desember 2010

Workshop Data EMIS

Mapenda Dan IT? Good! Good!

Sabtu 4 Desember 2010 telah dilaksanakan workshop EMIS (Education Management Information System) oleh Mapenda Kementerian Agama Kabupaten Malang. Workshop ini bertujuan untuk menyiapkan operator untuk masing – masing PC se-Kabupaten Malang, dimana operator ini akan bertugas untuk memasukkan data lembaga yang tergabung dalam PC secara online ke situs mapenda yang kabarnya akan segera beroperasi dalam waktu seminggu ke depan. Sebuah kemajuan yang sangat patut untuk diapresiasi secara positif. Bahwa nanti ke depannya Mapenda akan menginformasikan segala sesuatunya secara terbuka, cepat, dan tentunya dapat dinikmati oleh semua yang membutuhkan informasi yang berkaitan dengan kementerian agama dan seluruh lembaga binaannya.

Secara tidak langsung hal ini memacu para guru untuk lebih akrab dengan IT, memang tak semua kenal dengan IT, masih banyak dari kami (para guru) yang gagap teknologi (alias gaptek), namun dengan dimilikinya website sendiri oleh mapenda sungguh membuat kami menjadi lebih termotivasi untuk belajar lebih jauh lagi tentang IT. Satu kerikil kecil yang harus dikoreksi adalah saat pertama kali dimulai, tidak ada layar terkembang yang siap dengan kalimat “HOTSPOT AREA”, jadi kami yang datang dengan laptop (entah milik sendiri atau pinjaman) duduk enak – enakan dan bermain internet dengan modem bawaan dari rumah sambil saling menanyakan kita ini mau apa?
“Udah connect?” terdengar beberapa suara.
“Udah!” satu dua suara menyahut
“Belum!” banyak suara berteriak.

sekitar pukul 10 lewat baru Bu Luluk yang memberikan sepintas tentang apa sih data EMIS, kami yang baru datang tengak tengok tidak mengerti apa yang dimaksudkan, saya buka lewat modem bawaan dari rumah sesuai dengan alamat yang saya dapat dari teman yang sudah connect, alhasil tidak ada halaman ditemukan, berkali – kali terbaca “Page cannot displayed”, baru “ngeh’ saat saya menanyakan pada Bapak baik hati, ternyata kami itu di area hotspot-nya mapenda.

Alhasil kami pun mulai mencoba connet dengan wireless, namun susah sekali connectnya. Kasihan Pak Gufron yang harus melayani begitu banyak antrian laptop di depan. Namun dengan tangan ahlinya maka laptop pun juga netbook para guru dapat connect dengan wireless-nya mapenda.

Selesai dengan masalah connect, ternyata begitu masuk ke halaman data aplikasi yang kami kerjakan masih terjadi banyak kesalahan dan gaduh-lah suasana di Aula Kemenag. Karena sedikit penasaran maka saya tanyakan, “Apa yang sesungguhnya terjadi?”

Hari itu adalah uji coba wireless baru mapenda yang baru disetting untuk memudahkan mapenda sekaligus lembaga untuk memasukkan data – data yang diperlukan ke pusat. Satu hal lagi, peserta yang datang membludak. Akhirnya kami pun dipersilahkan menunggu dan mengisi lewat website baru mapenda (http://mapenda.kabmalang.or.id) .

Terlihat jelas sekali bukan, bahwa guru – guru RA/MI yang hadir di hari itu adalah orang – orang yang kehausan dan butuh dipuaskan dengan kucuran informasi yang sesuai dengan keperluan masing – masing pihak, agar kerjasama yang berkelindan mencapai sebuah kemajuan yang diharapkan. Mapenda dan IT? Good! Good! Kami tunggu kemajuanmu….

i'm back!

Tsalatsa, 06 April 2010
Beberapa waktu lalu selepas diklat selama 3 hari dari senin sampai rabu 29-31 Maret 2010 serasa ada ‘charge’ energy baru buatku, memeluk kembali aktivitas yang menyenangkan, menata ulang ruang kelas agar lebih nyaman buat anak – anak. Satu celutukan Jayeng menggugahku, “Kenapa Bu guru berhenti ‘menyenangkan’?” tanyanya dengan wajah yang begitu polos, aku terhenyak, subhanalloh! Benarkah? Berapa lama aku berhenti ‘menyenangkan’ untuk anak – anak? Berapa lama aku tak perduli dengan mereka? Berapa lama aku sibuk berkutat dengan masalahku? Ya! Jujur kuakui ada begitu banyak hal yang membuatku menghantarkan kegiatan pembelajaran sekedarnya saja, ampun!
“Kalau Bu guru berhenti menyenangkan, berarti sekarang bagaimana?” tanyaku.
“Menyenangkan!” teriaknya diiyakan teman – temannya yang lain.
Aku tersenyum, pas! Pekikku dalam hati, ini saatnya dewi mora come back!


Sebenarnya ada ‘sedih’ terpatri dalam hati, kenapa diklat itu belum mempunyai ‘impact’ yang berarti di lembaga-ku, aku merasa separuh tubuhku ‘mati’ dan kembali sendiri dengan keyakinanku tentang semua arti ‘pendidikan’ dan apa yang ingin kususun, sebenarnya kenapa kami begitu ‘njomplang?’, apa aku terlalu ‘sombong’? suatu waktu aku juga kepingin terbang dan hinggap di sebuah tempat yang mampu mewadahi semua aspirasiku tentang hidup dan kehidupan dan juga pendidikan anak, sepiiiii sekali di tempatku, semuanya seperti ‘tak ada apa – apa’.

Sebenarnya apa yang kucari dalam sebuah kegiatan ‘pendidikan’? apa yang kuinginkan? Apa juga yang hendak kucapai? Aku juga masih meraba bayangan hitam panjang yang tak jelas di angan – angan, tapi my positive feeling that I still have the ‘shadow’….
Pendidikan bagiku adalah sebuah proses yang takkan berhenti sampai kapan pun, jika kita berhenti mendidik diri kita maka sesungguhnya kita berada di ambang kematian. Aku suka ‘bergerak’ dinamis, aku juga suka menjadi ‘manusia’ baru dalam segala hal, aku suka menjadi ‘rakus’ terhadap ilmu, aku juga suka ‘melihat’ anak – anakku ber-‘semangat’ menjalani hidup! Aku suka merasakan proses mereka berusaha untuk menjadi ‘bisa’ 

flashback me n my choice

Ketika dunia kembali menyanyi untukku….
Lepas Isya’, ahad 4 April 2010

Aku pernah bertanya dalam hidup, apa sih yang ingin kamu dapatkan? Dengan lugas aku menjawab ‘kebahagiaan’, malam ini aku menemukan jawabnya, aku merasa ‘bahagia’ saat aku berbagi sesuatu dengan orang lain.

Seorang teman mengirim sms padaku bertanya tentang bagaimana menjadi guru yang menyenangkan buat anak – anak, sebuah cita – cita yang mulia, bukankah belajar memang harus menyenangkan? Aku sendiri sejak memiliki anak dan kesibukan sebagai ibu nyaris mengaburkan tujuanku menenggelamkan diri di dunia pendidikan, tuntutan yang ‘tinggi’ dan juga himpitan ‘ekonomi’ yang masih sangat terasa, subhanalloh, terima kasih ya Alloh KAU beri aku kesempatan untuk merasakan ini semua.

Mungkin dari segi usia kami sebaya, namun dari segi ke-endel-an, jangan ditanya, jawabannya adalah aku yang paling endel!

Kemudian aku teringat saat pertama kali aku mengenal wanita yang bernama ‘Qonita Tadjudin’ tahun 2004 lalu, saat dimana aku mulai meyakinkan diri membantu temanku untuk merintis sebuah lembaga pendidikan yang bernama AL-USWAh di Singosari, saat itu dengan begitu takjubnya aku melihat beliau mengurus semua buah hatinya sendiri yang waktu itu berjumlah 4 anak, dan masih aktif berkecimpung sebagai kepala sekolah di lembaga pendidikan yang bernama AL-USWAH di daerah Bangil.

Satu yang tak pernah lepas dari beliau adalah ‘SENYUM’ (kapan aku juga berkesempatan untuk menirunya ya Alloh….)

Kedua yang kulihat adalah ‘NO YELLING!’ – sama sekali tak ada teriakan.

Ketiga yang kulihat adalah semangat! Keempat ‘interest’ beliau dalam dunia pendidikan, sangat menginspirasi-ku, dan suasana kekeluargaan yang diciptakan di lembaga yang beliau kelola, subhanalloh! Terimakasih bu Qoni!

Setelah itu kuadopsi dan kuadaptasikan ke AL-USWAH di singosari selama satu tahun yang menyenangkan .

Sampai di ujung perjalanan dimana aku harus memutuskan kemana langkah selanjutnya…. Kukejar impianku dan aku pun sampai di RA BAITUL MU’MININ, TK dimana aku mengenal lembaga pendidikan formal pertama dengan ‘atmosfir’ yang sangat berbeda, ya! Karena kesejahteraan kami adalah berasal dari olah kelola kami dalam mengoperasionalkan sekolah, jadi ya….

Namun setelah ditimbang – timbang dengan matang prinsip dasar pendidikan itu sama saja dimana – mana.
1. Learning to know
2. Learning to be
3. Learning how to live together

Dan menjadi ‘guru’ tugas utamanya adalah memberikan ‘hati’ dan ‘cinta’ pada profesinya, dengan demikian dunia pendidikan akan mampu melakukan lompatan – lompatan yang menakjubkan, sanggupkah?

Banyak teori yang mengatakan bahwa sesuatu itu berhenti berkembang saat kita sudah terjebak rutinitas kewajiban, dan juga lupa untuk nge’cas’ jiwa agar kita mampu mengikuti perkembangan dalam dunia pendidikan, hasilnya? Yes! We do!

Hal pertama yang dibutuhkan anak – anak adalah rasa aman dan nyaman, kedua merasa diterima sebagai teman, dan ketiga kita ‘mengerti’ apa yang mereka butuhkan (inginkan), dalam sebuah kegiatan yang menarik, heboh, dan mereka tersertakan didalamnya itu sangat menyenangkan.

Pendidikan bukanlah wacana tetapi sebuah proses anak manusia dalam usaha menjemput takdirnya. Dengan memahami 3 prinsip dasar pendidikan tadi, melaksanakannya secara berkelanjutan insyaalloh kita berada di jalur yang benar untuk menjadi guru yang menyenangkan buat anak khususnya di PAUD.
Nguantux banget! Tidur dulu…..

catatanku saat mengajar

Ketika kita lupa ‘menyenangkan’

Suatu saat saya mengajar dan menyampaikan apa yang akan dipelajari anak – anak tentang rekreasi, saat ada pilihan aktivitas belajar menulis dengan crayon, menggambar bebas, dan bercerita, seorang siswa saya berteriak “Tidak mauuuuu!!!”

Saya dekati dia dan mengajaknya berdialog, “Hari ini mau mengerjakan apa sayang?” dengan lembut saya menanyainya, dia tetap berteriak tidak mau dan tidak mau. Akhirnya dengan bijak saya berkata, “Baiklah, bu guru kasih kesempatan mas untuk berpikir aktivitas apa yang akan mas kerjakan.”

Biasanya senjata ini ampuh, namun hari itu saya gagal, dia tidak beranjak kemana – mana, dia sibuk bermain puzzle. Satu hari berlalu….

Keesokan harinya dia tidak mau ‘terlibat’ aktivitas bersama teman lagi, dia asyik mewarnai buku mewarnanya, kembali saya merasa ‘gagal’, what’s up with me? Are there something wrong? Saya coba komunikasikan kejadian ini dengan wali muridnya, memang dia ‘sedikit’ berulah di rumah, dan pengasuhnya pun tidak tahu kenapa?

Alhamdulillah Alloh tidak memberikan jawaban ‘kenapa’ itu terlalu lama. Pada hari ketiga saya lihat dia mulai ‘tertawa’ mendengarkan saya bercerita, saatnya untuk ‘masuk’. Setelah selesai bercerita saya dekati dia dan mulai membuka dialog.
“Mas, boleh bu guru bertanya?” Tanya saya berusaha ramah.
“Boleh! Boleh!”
“Ada yang lucu, ya?”

Sekali lagi siswa saya itu tertawa terbahak – bahak sambil berkata, “Bu Guru lucu!” beberapa kali. Ow, saya lucu? Apa beberapa waktu ini tidak? Kenapa dia harus menunggu selama beberapa waktu baru bias tertawa bersama teman – temannya?

Akhirnya dengan proses bercanda dan tertawa saya menemukan jawabannya, “Bu guru kemarin tidak menyenangkan!” cetusnya dengan sangat polos. Wow! Saya tidak menyenangkan? Itu satu hal yang terabaikan, saya tidak ‘menyenangkan’? itu adalah kritikan yang ‘menggugah’ saya, padahal -maaf- jika disurvey insyaalloh seluruh wali murid saya akan mengatakan bu dewi menyenangkan dan sangat ‘menggugah’ semangat anak – anak untuk beraktivitas bersama. Dan semestinya-lah seorang guru TK harus selalu seperti itu.

Saatnya ‘muhasabah’ diri….

Hari – hari yang sibuk dan penuh tuntutan pasti dihadapi oleh semua orang tak terkecuali guru TK, tuntutan datang tidak hanya dari profesi namun dari segala sisi kehidupan, dan itu-lah yang saya rasakan beberapa waktu lalu, rasa cemas dan takut tak mampu memberikan ‘yang terbaik’ buat anak – anak, terlebih lagi buat ‘buah hati’ saya sendiri, alhasil bukannya semakin baik kinerja saya, namun justru semakin ‘menekan’, ada keinginan kecil untuk lebih ‘memperhatikan buah hati’, konsekuensi-nya? Melepaskan kesenangan dan kecintaan saya terhadap dunia anak – anak (paling tidak untuk sementara waktu). Disisi lain saya berusaha keras menemukan ‘penyebab’ kenapa saya begitu ‘tertekan’ dan bagaimana menyiasati hal tersebut?

Jangan dikira dengan saya mengatakan tertekan terus kita tidak professional menjalankan profesi ‘penuh berkah’ ini, tidak! Hanya ada waktu – waktu ‘tertentu’ alarm ‘tanda bahaya’ itu berbunyi. Bila sudah demikian, saya akan menyibukkan diri mengerjakan gambar saat anak – anak sibuk dengan aktivitasnya. Saya yakin setiap guru TK pernah mengalaminya, dan pasti jawaban mereka sama, saat bersama anak – anak sebesar apa pun beban kita, maka kita pun ‘ada’ bersama mereka. Dan itu membuat saya ‘connect’ dengan dunia mereka.

Akhirnya saya sadar sepenuhnya bahwa anak kecil pun bisa ‘membaca’ kita orang dewasa. Sejak itu saya kembali menemukan ‘semangat’ saya yang hampir ‘padam’ (apology-nya sih, bukannya hendak padam, tapi kerlip – kerlip di kejauhan ).

Baiklah pembaca, rekan guru yang tanpa tanda jasa, para bunda dan ayah, dengan bercermin pada kisah saya mari kita ambil hikmah bahwa apa pun yang kita komunikasikan dengan anak, carilah cara yang ‘menyenangkan’, insyaalloh mereka akan paham dan bias bekerjasama dengan kita.

Perlu diingat ‘menyenangkan’ itu sangat berbeda dengan ‘memanjakan, menyenangkan itu antara lain sebagai berikut:
1. Mengerti sisi psikologi anak yang diajak bicara, karena tidak semua anak memiliki latar belakang yang sama. Masing – masing anak memiliki latar belakang yang berbeda, dan bias jadi ada yang bertolak belakang.
2. Memahami karakter anak, dengan membaca saat tepat untuk masuk dan berkomunikasi, ada saat dimana dia tidak mau diganggu, ada saatnya dimana dia bias dengan terbuka berkomunikasi dengan kita.
3. Menjelaskan secara jelas tentang aktivitas apa yang kita tawarkan, memberikan pengertian akan fungsi dan tujuannya, dan harapan kita kepadanya. Semua pasti ingin anaknya menjadi ‘orang hebat’, kan?
4. Ajari mereka untuk ‘mendengar’ dengan ‘mendengarkan’ mereka.
5. Ajari mereka dengan ‘hati’ dan cinta.
Akhirnya, pada siapa pun yang perduli akan nasib pendidikan di negeri kita saya ucapkan, “Selamat berjuang mencerdaskan bangsa, selamat hari kartini ”.

Ketika Aku Belajar dari Anakku

Singosari, 21 April 2010
00.30 WIB

Beberapa hari ini aku sangat menikmati kebersamaanku dengan zakki, hal itu dikarenakan aku sangat berusaha ‘melepaskan beban’ yang terasa ‘menghimpit’ dadaku, rasanya penuh sesak, Alhamdulillah agaknya Alloh mulai ‘membuka mataku’ kembali, amiiiin….


Aku -mau tak mau- merekam cara – cara orang di sekitarku bagaimana mendidik dan membesarkan anak, ‘screaming’, ‘yelling’, n sometimes ‘bullying’ (gimana ga bullying kalo qta nyubit n nyelentik anak?). Apology-nya sih, bagaiamana tidak akan terhindar dari hal demikian kalo qta-nya menghadapi banyak ‘beban’. Ya? Jujur saja aku merasa ‘terbebani’ dengan tugasku mendidik dan mengasuh anak – anak di RA-ku, belum lagi aku harus membawa serta zakki kemana – mana karena zakki tak mau lagi ‘dititipkan’ ke siapa – siapa, 2 bulan bersamanya setiap waktu mengajariku banyak hal. Aku malu ‘menyandang’ gelar ‘guru’ karena aku belum mampu mendidik dan mengarahkan diriku dengan baik, tapi aku percaya Alloh akan ‘membuatku pintar dan hebat’ sebagai orangtua seiring perjalanan waktu.


Satu yang membuatku ‘surprise’, beberapa hari ini aku dikejutkan dengan ‘eksplorasi’ baru zakki dengan dunia-nya, How come?


Setiap pagi dia selalu ‘membantuku’ menaikkan tekanan darahku, bagaimana tidak, waktuku beraktivitas didapur diselinginya dengan membawakan buku untuk kubacakan, sering aku berusaha menjelaskan sambil terus beraktivitas, namun ujungnya adalah tangisan zakki dan aku pun berteriak, “zakki, bunda sibuk nak!” dengan suara yang kutekan, tapi itu semua takkan menyelesaikan tangisnya sampai aku ‘melayani’ keinginannya, jadilah pekerjaanku ‘setengah’ selesai dan aku pun membacakan cerita untuknya. Buku kesukaannya semakin beragam, tapi yang paling disukainya adalah “the tale of peter rabbit” dan “cerita 25 Nabi dan Rosul”.


Mulai sabtu kemarin, pagi yang cukup sibuk kurasa, seperti biasa program TV “spongebob” kunyalakan, dia tidak tertarik, dia mengambil buku di rak dipan, kembali ke depan TV dan membelakanginya, kakinya diselonjorkan dengan relaks, buku “25 Nabi dan Rosul” diletakkan di atas kakinya dan mulailah dia bereksplorasi, giliranku yang terkejut dan menghentikan aktivitasku, kudekati dia dan mulai menikmati setiap mimiknya saat ‘membaca’ buku itu, dan subhanalloh! Dia duduk sambil mengeksplorasi buku itu sekitar 15 menit! Di usianya yang masih 19 bulan? Wow!


It’s amazing things kan? Yah, paling tidak buat bunda-nya yang masih belum begitu ‘pandai’ menjalankan peran sebagaimana bunda – bunda yang senior.


Akhirnya aku berusaha memfasilitasinya, kusediakan waktu ‘lebih khusus’ lagi untuk ‘membantu’-nya ‘merangsang’ kesukaannya, dan hari ini pun dia meluangkan waktu ‘membaca’ sendiri sambil kutemani selama lebih kurang 15 menit.


Lha spongebobnya kemaren lalu gimana bunda? Ngoceh sendiri tanpa dilihat zakki, namun sekali – kali zakki menengokkan kepala ke belakang saat terdengar suara heboh di layar TV.


Qta ini memang tak bias lepas dari TV, tapi seoptimal mungkin kuusahakan untuk memilihkan program acara yang memiliki nilai edukasi tinggi, seperti? HI-5, pocoyo, shaun the sheep, room 4 improvement, sesekali dora, spongebob, backyardigans, supernanny ini bagus buat orangtua, buat anak tidak tanpa bimbingan, jadi harus didampingi dan harus nonton sampai akhir. Sehingga anak tahu betul proses ‘penyembuhannya’ dan bagaimana ‘beretika’ yang baik dalam kehidupan sehari - hari.


Alhamdulillah Alloh memberikan kesempatan padaku untuk belajar dari anakku….
See u next time….


cuplikan kisah ini memenangkan lomba MOMS GO BLOGGING AYAHBUNDA sebagai pemenang hiburan (meski bukan utama, i feel that Alloh teachme more n more....)