Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2012

Bagaimana kisahku menjadi “Pendongeng”



Bismillah….
Membayar hutang janji men-“share” tentang mendongeng, maka ijinkanlah saya untuk ciap-ciap sedikit pengalaman yang saya punya tentang bagaimana saya menjadi pendongeng, hallah!
Tak pernah terbayang di benak saya akhirnya Alloh menghantarkan saya untuk sampai disini, bahkan berani melabelli diri dengan “DORA-Dongeng Bersama Bunda Mora” – 2010, dan akhirnya saya putuskan mengganti BRAND menjadi “Dongeng Bunda Mora saja” – 2012.
Melayangkan ingatan di masa kecil, tumbuh berbeda dalam keluarga, selalu dipertanyakan kenapa “berbeda” dari saudara-saudara yang lain membuat “sensitifitas” meninggi. Tak mampu curhat, akhirnya jatuh cinta pada sandiwara radio “Brama Kumbara”, heheheh! (sebab ada tokoh yang selalu malang disitu, aih!).
Radio temanku!
Setiap sore (sayangnya lupa radio apa?) selalu mengudarakan dongeng macam keong emas,ande-ande lumut,  timun emas, dll. Menarik! Inspiring! Secara tidak sadar saya diajari “bercakap-cakap” dengan diri saya sendiri (tanpa suara alias dalam hati).
Di SDI Al-Maarif 02 saat itu juga sering memutarkan kaset yang berisi cerita-cerita yang seperti tersebut di atas. Jadilah keong emas dan ande-ande lumut cerita favorit saya hingga saat ini (walaupun belum pernah saya dongengkan ketika di atas panggung).
Ketika SMP, pernah mencoba mengikuti lomba cerita dll, kalah mental melihat begitu banyak pesaing yang ayu-ayu, hehehe! Maka sejak itu sedikit terlupakan.
Pada waktu SMA juga tak pernah berfikir kesana, hingga….

1997!
Saya kuliah dan menjadi ustadzah di TPQ-TPQ pinggir kali, mulailah saya mengisahkan hikmah berdasarkan “Riyadhus Sholihin” dan kitab-kitab lain.
Saya mulai melihat perbedaan. Kata teman-teman, setiap kali saya yang membuka majelis anak-anak akan diam memperhatikan, benarkah?!
Kembali pada radio, akhirnya ANDALUS menjadi pilihan saya menimba ilmu, ada kisah-kisah penuh hikmah yang diudarakannya setiap hari, gaya bertuturnya elok dan lembut, iringan musiknya juga menghanyutkan. Saya pun mulai menirunya.
Saya usung tape kecil dan mulai beroperasi di Musholla desa (boleh, kan?) yang waktu itu “sepi” pengunjung anak-anak. Setiap sore! Satu demi satu anak-anak datang, mereka menyimak kisah yang saya sampaikan, dan dimulailah TPQ baru dibawah komando teman-teman REMUS dimotori saya, hehehe!

2004
Seorang teman yang melihat bagaimana saya mampu mengendalikan anak-anak mengajak saya membuka PAUD, saya pun menyambutnya dengan senang, karena dunia masa depan akan dipenuhi anak-anak saat ini, jadilah saya memakai “peran” dalam mengusung pembelajaran. Saya tertatih-tatih karena background pendidikan saya yang jauh menyimpang. Namun “cinta” berrbicara hingga dengan segenap usaha saya terus belajar untuk “bisa”, dalam hal apa pun yang berhubungan dengan proses belajar mengajar, walaupun sampai saat ini masih sering terseok-seok.
Di tahun ini saya mengenal 3 karakter suara (suara kecil, suara besar, dan suara saya sendiri). Maka ketika RRI mengadakan lomba dongeng, saya memberanikan ikut dan saat “evaluasi” (karena Technical Meeting tak hadir), tahulah saya kalau saya telah menyajikan “cerita”, bukan “dongeng”. Dari segi intonasi, ekspresi, dan penguasaan semua bagus, sayangnya pilihan saya cerita, begitulah kira-kira yang disampaikan pada saya. Gagal! Namun tak patah arang ^_^.

2005
Mencoba kembali pada jalur pendidikan ketika kuliah, berusaha menggapai “impian” lain, namun di tengah-tengah perjalanan kembali Alloh “menyentuh” saya dengan dunia anak-anak, memegang “outbond” anak dan kembali “mendongeng” sungguh mengasyikkan!
Saya putuskan kembali pulang dan masuk di LPGTKIT selama setahun. Bertemulah saya dengan pendongeng senior kota Malang “Kak Rohmat”. Belajar kepadanya dan kepada Murid seniornya membuat saya semakin PD mengolah semua kemampuan saya, prinsip TAK ADA YANG TAK BISA ASAL KITA MAU USAHA pun saya terapkan dalam berbagai kesempatan. Saya ibarat spon yang menyerap begitu banyak air untuk bekal “perjalanan” panjang saya.

2006
Memutuskan untuk mengabdikan diri di RA Baitul Mu’minin, mulailah saya berteman banyak boneka dan berusaha mengenal karakter suara yang lain.
Bebek, Ayam, Anjing, dll! (Satu poin penting, karena masih belajar. Saya selalu mengingatnya dengan menyuarakan suara aslinya dulu agar tak salah menyampaikan. Missal: Bebek berkata, “Kwek! Kwek! Ada apa? – dengan suara cempreng kejepit. Dst.).
Saya juga mulai menerima beberapa panggilan “mendongeng” meski tanpa “uang saku” kala itu, Alhamdulillah!

2008
Man Jadda wa jadda! Kesukaan mendongeng saya mendapat apresiasi yang baik saat mengikuti lomba guru RA tingkat Kabupaten dengan menyabet kesempatan menjadi juara I (How Lucky I am! Alhamdulillah!). Namun di atas langit masih ada langit! Saya gagal di Propinsi, tak patah arang!
Saya juga tetap menerima job “mendongeng” ke sekolah-sekolah dan even-even lain, bahkan ada yang privat hingga berkesempatan meraih juara I tingkat Jatim.

2009
Terus mendongeng, berkisah, dan mulai membawa “berkah” melimpah, amiiin….

2010
Ada seorang teman menjadi guru Broadcast di SMK menggandeng saya untuk program dongeng TV komunitas mereka, maka meluncurlah program DORA dengan penuh suka cita.

2011
Saya tetap mendongeng

2012
Saya akan tetap mendongeng sampai -Insyaalloh-  tutup usia.

Itu kisahnya, lantas ilmu “cethek” yang ingin saya bagikan adalah sbb:
ð  Pertama kali yang harus dipunyai seorang pendongeng :
1.       NIAT.
Ada banyak teman sepantaran sayadi dunia pendidikan anak  yang selalu mengatakan tak bisa, maka saya tak hendak banyak kata tapi meniatkan bahwa SAYA BISA!
2.       MAU MENCOBA.
Tak ada salahnya mencoba, grogi, demam panggung, dan banyak kekhawatiran lain yang harus dienyahkan. Cobalah apapun hasilnya.
3.       PERCAYA DIRI.
Percaya Diri adalah setengah keberhasilan, dengan PD kita akan mampu melewati tantangan dan hambatan dalam mendongeng.
4.       MULAI BERAKSI
Mulai sekarang juga, jangan tunggu menjadi ahlinya karena kita akan terus belajar di sepanjang perjalanan kita.

ð  Kedua kalinya adalah mempersiapkan diri dengan :
1.       Menguasai cerita dan jalan ceritanya.
5W 1H, yuk disimak!
- What?
Apa yang kita sampaikan pada audiens? Cerita atau dongeng, dan tentang apa?
- Who?
Siapa yang ada di depan kita? Anak TK, SD, atau bahkan SMP? Libatkan mereka dalam cerita
- Where?
Dimana kita menyampaikannya? Sekolah, even lomba, TPQ? Pasti akan berbeda cerita yang akan kita sampaikan pada mereka.
- Why?
Mengapa kita menyampaikannya, mengenalkan karakter yang baik, menanamkan nilai tanpa sadar, memberi contoh tanpa menggurui, dst.
- How?
Bagaimana menyampaikannya? Tanpa peraga, dengan peraga, dengan buku teks. Akan berbeda pula cara menyampaikannya.

2.       Mengolah karakter suara
Ada banyak yang mengajarkan setidaknya kita menguasai 5 karakter suara, maka bagaimana cara memperoleh dan menguasainya?
1.       Suara asli kita, asal kita punya suara pasti bisa bercerita.
2.       Suara kecil, bisa kita kelola dengan mengecilkan suara dengan menjepit pita suara di tenggorokan (begitu kali ya? Yang pasti saat suara kecil saya tenggorokan serasa disempitkan ^_^)
3.       Suara besar, bisa kita peroleh dengan pernafasan perut dan mengembangkan pita suara.
4.       Suara Kakek dan Nenek, bisa kita peroleh dengan memasukkan semua bibir ke dalam mulut.
5.       Suara binatang, bisa kita kelola dengan mengenal suara aslinya lebih dulu
6.       Selamat berlatih

3.       Memperhatikan intonasi suara
Intonasi adalah lagu suara, menguasai lagu suara sangat membantu menghantar sebuah cerita/dongeng dengan menarik, naik turun! Berbisik dan berteriak jelas berbeda. Berbicara lembut dan kasar juga berbeda.

4.       Mengelola ekspresi wajah dan tubuh
Ekspresi mengajak anak menghayati alur cerita. Bagaimana mengelola  wajah sedih dengan sikap tubuh yang mendukung. Menampilkan wajah ceria dengan sikap tubuh yang mempesona, dan banyak lagi lainnya! Semua itu akan mengajak anak “mengalir” bersama cerita kita,

5.       Praktekkan dengan hati dan cinta
“Hati” akan berbicara tentang hal baik dan indah, “cinta” memberikan segalanya tanpa syarat, maka inilah pendongeng yang tepat untuk anak-anak.

6.       Improvisasi dan Inovasi
Bekali dengan banyak lagu dan tepuk, sesuaikan dengan cerita, dan bersiaplah untuk banyak tantangan meskipun di depan penyampaian dongeng kita sudah memberi aturan ^_^.

7.       Selamat mencoba ^_^

Ada banyak kekurangan dalam tulisan ini maka maafkanlah yang kurang dan ambillah yang baik dan bermanfaat. Mungkin Bunda Wiwik “dongeng” Puspitasari dapat menambahkan dengan lebih baik dan lebih banyak. Karena beliau telah beberapa kali menyabet gelar pendongeng Nasional ^_^.
Selamat mencoba teman-teman, sungguh saya menyukai dunia anak sepenuh “hati” dan cinta.






Sabtu, 30 April 2011

Part of Journey


Dongeng, Sebuah Dunia Tanpa Batas

Hari Kartini baru saja usai diperingati dimana - mana, begitu meriah dan menyenangkan. Begitu juga dengan kegiatan yang dijadikan event tahunan di MIN Druju Sumbermanjing Kabupaten Malang. Ada banyak even yang terselenggara dalam satu hari yang penuh dengan keceriaan. Mulai dari mewarna untuk anak TK, fashion show, bazaar makanan yang diselenggarakan di tiap kelas, dan juga mendongeng dengan pendongeng yang dipercayakan pada saya dalam DORA (Dongeng Bersama Bunda Mora).
Jadilah pada hari Kartini (Kamis, 21 April 2011) yang berbahagia saya meluncur menuju Sumbermanjing untuk sebuah cinta berbagi cerita.
Suasana yang riuh karena begitu pengunjung yang begitu antusias, saya mulai menempatkan diri, satu dua anak tersenyum melihat saya (Hmmmh...., rasanya luar biasa! terakhir kali saat hamil 7 bulan saya memandu acara perpisahan di TK Muslimat NU 21 Kota Malang). Rindu berbuncah untuk sebuah kesempatan yang lama kusimpan dalam angan ^_^.
Melihat begitu banyak anak TK Islam sama TK Rejeni (maaf seumpama salah tulis), dan juga anak - anak MIN Druju yang berada di aula, acara dimulai dengan dibuka oleh Bapak Kepala MIN Druju, sungguh suatu harapan yang sangat indah untuk sebuah kemajuan sistem pendidikan khususnya di daerah Druju. Umumnya Kabupaten Malang.
Setelah pembukaan dimulai, mulailah Bunda Mora beraksi, menstimulir konsentrasi agar anak - anak memperhatikan apa yang akan diceritakan oleh Bunda, maka mulailah dongeng disajikan dengan interaktif, ada banyak celoteh, sapa, dan lagu, dan sedikit tips  menggambar “KARTINI” ala program televisi.
Alhamdulillah, sampai pukul 11 acara mendongeng selesai, kembali meluncur dengan roda dua kembali ke Singosari.
Semoga MIN DRUJU jaya selalu dan mampu mencetak generasi bangsa yang berkualitas jasmani n rohani ^_^.






Selasa, 15 Maret 2011

Dongeng adalah sebuah bagian dari cerita ^_^


Dongeng adalah sebuah bagian dari cerita ^_^

Pulang sekolah ada latihan tari di Basecamp IGRA kecamatan Singosari, maka dengan membonceng zakki, saya pun meluncur kesana, disambut sepeda motor bu Qom sementara orangnya tak ada, kata penjaga yang biasa memegang kunci, Bu Qom masih ke pasar. Ya, letak basecamp kami memang dekat dengan pasar singosari.

Bu Khusni muncul dengan Bu Nur, tak lama bu Qib, disusul Bu Qom yang sudah membawa tahu kempos dua kresek  besar, kemudian Bu Ifah dan Bu Ika, maka perhelatan latihan tari “Persembahan Anak” pun dimulai. Tahu tidak kawan – kawan! Salah satu aktivitas yang paling saya takuti dari dulu adalah menari, tapi gandeng jadi guru RA, maka apa pun dilakukan, jadi multi talenta kaya’nya sekarang J.

Ya ya ya, bagaimana kita akan mengajari anak – anak menari kalau kita tak mampu, mampu karena mau, mau karena tak tahu malu! Hahahaha! Astaghfirullohal ‘adhiiim….

Dua kali episode dilalui, kami pun beristirahat, seorang teman nyelutuk, “Bu, apa sih bedanya dongeng sama cerita?”

Hwalah! Itu kan pertanyaan yang sudah lama mengendap di kepala dan belum nemu muara hingga saat ini. 

Diam tercenung. “Ayo, Bu! Terangin ke kita, kita ada tugas bahasa Indonesia buat presentasi besok!”

Jadi ingat “kecelakaan” pertama kali yang membuat saya menjadi “pendongeng” (versi saya sih! Hehehe!)

Saya bukan sarjana bahasa Indonesia, saya adalah sarjana teknologi pertanian yang jatuh cinta pada dunia anak dan akhirnya memutuskan untuk berkecimpung dalam dunia anak dengan segenap pernak perniknya. 

Tahun 2004 tepatnya secara “sadar” mulai berenang di dunia anak – anak dengan berdirinya play group AL-USWAH Singosari, membantu teman dengan daya dan upaya agar generasi Islami terbentuk dengan bagus di masa datang. Berjumpa dengan sesosok perempuan yang “Inspiring” buat saya - Bu Qonita Tajudin -  (maturnuwun Bu atas Inspirasinya), membuat saya “bertekad” untuk mendalami dunia anak meski harus “otodidak”.

Mulailah saya mengelola dua karakter suara andalan saya, jadi saya punya tiga suara saat mengajar, cara cerdas buat saya yang masih setengah buta dengan dunia pra-sekolah. Karena saat melihat anak mulai “meleng” satu suara lain saya keluaarkan hingga anak – anak berkonsentrasi kembali pada saya, hehehe!

Rasa “penasaran” pun mulai menimpa saya, akhirnya saat yang saya tunggu – tunggu tiba, ada lomba dongeng se-jatim yang mengadakan radio RRI Malang menyambut bulan bahasa bekerjasama dengan anak sastra UM (apakah sampai saat ini even itu masih ada? Allohu a’lam J - barangkali ada yang kasih info buat saya, karena sampai saat ini saya ingin sekali ikut even seperti itu, untuk men-”ngangsu kaweruh” dari teman – teman lain, belajar dengan melihat sepertinya hal yang sangat menyenangkan!)

Technical Meeting saya tak dating karena berbarengan dengan acara lain yang most important, saya hanya dapat info, saya tampil tanggal sekian jam sekian siaran langsung! Wuhuiiii….

Maka berangkatlah di hari H, dag dig dug! Pastinyaaaaa….

Melenggang sukses dengan dongeng (menurut saya kala itu) dengan judul “Kalung Mutiara Farah”, ini cerita kiriman teman dari Jakarta namanya Mbak “Auliya Syafril” lewat email duluuuuu…..

Setelah keenam peserta tampil, kami pun digiring ke sebuah ruangan untuk sebuah “evaluasi”, kata kak juri (maaf banget lupa namanya) bilang, “Untuk ekspresi, intonasi, perbedaan karakter suara, gaya bertutur, dan segala macamnya kamu bagus, well done!”

Melayang kali yaaaaa….
“But!”
Tep! Gedebug! Glodhag! Jatuh deh ke bumi!
“Kamu diskualifikasi, karena yang kamu bawakan adalah cerita!” lanjutnya.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’uuuuuun…..

Satu “pelajaran” yang saya dapat saat itu (2004) adalah, cara saya menyampaikan sebuah cerita atau dongeng sudah benar, hanyaaaaaa…. Belum menemukan “Momen” yang tepat!

Tahun 2005 sepulang dari mengejar mimpi yang tak mungkin ter-“raih”, maka saya kembali ke kampong halaman dan memantapkan diri untuk mengenal dunia pra sekolah lewat LPGTKIT Insan Mandiri, maka sekali lagi ada cara “mendongeng” dalam selipan materi pembelajaran, mulailah saya mengembangkan beberapa karakter suara lain, semacam ayam dan binatang lain.

2006 mengabdikan diri di Lembaga tempat pertama kali mengenal pendidikan, RA BAITUL MU’MININ, tempat dimana saya mulai mengenal dunia pra-sekolah, karena menurut pendirinya, “Karena saya-lah, maka RA BAITUL MU’MININ lahir!” – jadi sedikit terbebani untuk mengembangkannya agar “sejajar” dengan TK/RA lain di sekitarnya J.

Mengasah segala kemampuan mulai dengan belajar menggambar (karena gambar saya dari SD sampai SMA paling banter dapat 80, itu pun satu atau dua kali, paling banyak 75! Pas!), ikut lomba gambar seri dapat harapan III di kecamatan, dst dst dst, Alhamdulillah….

Dan berlari-lah waktu dengan cepat sekali hingga tahun 2008, momen yang saya tunggu datang, saya mengikuti babak penyisihan kecamatan untuk lomba dongeng guru RA dalam rangka HAB DEPAG, lolos maju ke Kabupaten, segala daya upaya saya kerahkan, daaaaannn….

Alhamdulillah, apresiatif! Dengan Dongeng “Aku senang Sekolah” diramu lagu dan tepuk serta yel – yel. Saya dapat juara I dan berhak maju ke Propinsi….

Berangkat-lah saya ke propinsi, bagi saya dongeng adalah alat komunikasi dengan anak – anak, menanam sebuah nilai tanpa mereka sadar, merekam sebuah pelajaran tanpa merasa dipaksa, dan sekali lagi saya tertegun.

Pendongeng yang menyabet juara I hingga harapan III adalah mereka yang asyik dengan dongengnya! Bukan saya menyalahkan juri, bukan! Saya hanya perlu mengkoreksi kembali pemahaman saya, berarti ada yang saya missed understand! Kenapa? Saat kita benar – benar praktek mendongeng, maka aka nada banyak celoteh anak yang harus kita perhatikan, dan tanpa merusak cerita harus dialihkan entah dengan tepuk atau lagu yang sesuai dengan tema. Ramuan itu yang sudah berkali – kali saya praktekkan ke anak – anak pra-sekolah (hehehe! Sekali lagi “ala” saya ^_^).

Pelajaran yang saya dapat (2008) adalah, ada banyak pendongeng di luar sana yang luar biasa, tapi saya harus punya “warna” saya sendiri, mulailah “hamil ide” ^_^

Dan ada banyak hal terjadi hingga tahun 2011 ini, ada even dongeng kecamatan yang seorang teman mengompori agar saya ikut lagi, akhirnya saya pun ikut, selesai dengan tampilan saya, “How did the Egg become a chicken!” dimana ada sedikit dialog antara induk ayam dan Dori, maka saya pun harus puas dengan nomor dua.

Kata juri, “Yang saya sesalkan, kenapa Dori harus bicara sama ayam?”
Deg! Ooooo…. Ada yang salah lagi dalam pemahaman saya?

Bukan – bukan nomor berapa-nya yang saya permasalahkan, akan tetapi ada beberapa hal mendasar yang ingin saya ketahui, dan kelak semoga dapat saya kupas lebih lanjut (amiiiin….)

Yang sangat mengganggu adalah :
1.     Apa beda dongeng dengan cerita, karena bagi saya dongeng adalah bagian dari cerita, adakah yang bisa memberikan penjelasan ini? Literasi mana yang harus saya baca?
2.      Apakah dalam dongeng tidak boleh terjadi dialog antara ayam dengan manusia, ikan dengan manusia, atau benda dengan manusia?
3.      Pakem dongeng itu seperti apa sih?

Sepertinya kesimpulan sementara saya masih tetap, karena saya bukan sarjana bahasa, saya hanya bisa bilang dongeng adaalah bagiang dari cerita, kesemuanya adalah seni bertutur yang mencoba member gambaran sebuah peristiwa yang mengandung nilai dan pelajaran di dalamnya, sepakat atau tidak?!






Jumat, 04 Februari 2011

Dongeng yuuuk....

Dongeng yuuuk....


by Dewi Mora Rizkiana on Thursday, October 28, 2010 at 3:18pm

sebelum 'total' mengabdikan diri (ceilee) pada pendidikan anak, saya dulu -sejak kuliah- adalah guru TPA/TPQ keliling, saya suka sekali bercerita pada anak - anak hikayat - hikayat yang ada dalam dunia Islam (cikal bakal cinta sufi), setiap kali saya bercerita, saya dapati bahwa anak se'hebat' apa pun bisa tunduk diam serius mendengarkan, ck ck ck! luar biasa ya kehebatan seni bertutur?

kemudian saya 'kecemplung' di dunia anak atas 'paksa'-an seorang teman yang datang mengajak mendirikan PAUD di daerah kami, dengan bekal 'no body' but full of 'LOVE', PeDE aja!

saya menangis di hari pertama, begitu riuhnya anak - anak yang baru datang (pssst.... jangan bilang - bilang ya!), saya masuk kantor sebelum tatap muka pertama dimulai, menangis sebentar, menguatkan azzam, bismillahirrohmanirrohiiim....

agaknya Alloh menolong saya, 2 boneka kecil yang saya kasih nama Raden dan Binti menjadi penerang hari - hari saya selanjutnya, bekal tiga suara membuat saya serasa tidak sendirian menghadapi 14 anak kala itu (sama ortu-nya, ya sekitar 30 orang lah!)

hari demi hari bergulir begitu cepat (masa' sih!), saya menemukan 'panggilan jiwa' saya, "Terimakasih kawan, meski awalnya kau paksa, akhirnya aku jatuh cinta juga...."

menggali ilmu kesana kemari, seminar kesana dan kesini, alhasil satu tahun saya bersamanya, hingga saya mencoba mengejar mimpi saya yang lain...

satu tahun yang penuh berkah, membawa saya menyadari saat Diklat di Sragen tahun 2005, saya tahu, dunia anak adalah dunia saya, saya pulang dan saya kembali pada Raudlotul Athfal yang mengenalkan saya sebagai makhlukNYA yang harus berbagi pada sesama, mulai 2006 saya 'resmi' menceburkan diri di Raudlotul Athfal Baitul Mu'minin.

perjalanan panjang saya dimulai (sangat menyenangkan rasanya), diiringi tatap mata 'penuh tanya' (dengan kata lain tidak percaya), hari - hari penuh protes dan teguran, sekolah menjadi begitu 'riuh' dan begitu 'ramai', maka ketika setiap kali saya masuk, rombongan orangtua akan berdesakan mengantri di jendela untuk mengintip apa yang dikerjakan anaknya. wow!

teguran dari 'rekan' yang bilang saya jangan keterlaluan saat bersama anak - anak sering menge-rem langkah untuk maju....

olahraga, naik turun meja dan kursi, menyelusup di bawah kolong meja, berguling berlari, bikin kotor, pantomim, main drama, semua tertawa!

'hidup' serasa berwarna!

mendongeng adalah keseharian yang saya bawa, PeDE aja, bukan!

beberapa kali mengisi di acara - acara "hari bumi", di MIN Malang, TK Muslimat NU 21, TK Sabilillah, dan beberapa tempat lain membuat saya semakin PeDe.

di penghujung tahun 2008 Alloh memberikan 'hadiah' setelah kelahiran Zakki dengan memberi kesempatan saya merasakan bagaimana menjadi JUARA I MENDONGENG se-Kabupaten. Alhamdulillah....

sempat maju ke tingkat propinsi, namun Alloh memberikan kesempatan pada saya untuk kembali belajar agar 'melihat' banyak orang yang lebih baik dan lebih berpengalaman dari saya....

pulang tanpa membawa apa - apa, tapi azzam bahwa saya harus menerbitkan buku membuat saya 'hamil besar' akan ide itu selama satu tahun.

dikirim ke banyak penerbit namun jawabannya tidak memuaskan, ya, mungkin saya masih juauuuuh dari para senior

akhirnya dengan tekad bulat hadirlah buku KUPU dan KUPI

saya bersyukur karena Alloh memberikan kesempatan pada saya untuk berkarya hingga lahirlah buku seri saya (meski masih satu yang masih berani menerbitkan secara indie), Insyaalloh jika Alloh mengijinkan, akan hadir buku - buku saya yang lain.

terima kasih kepada seluruh tim, rekan, teman, distributor free-lance, dan juga apresiator karya saya, terimakasih semua, semoga saya bisa berkarya lebih baik lagi di masa depan, amiiiin!

thanks to Alloh 4 all in my life :)

I Love To Tell Story, My Baby Loves to read

Rabu, 30 Desember 2009
[Cinta Dongeng, Cinta Baca]
Oleh : Dewi Mora Rizkiana

Menuliskan kecerdasan si kecil serasa menemukan sebuah buku kosong yang setiap kali kita ingin mengisinya, tiba – tiba halaman demi halaman menjadi penuh. Namun saat ‘dipaksa’ untuk menuliskannya serasa semua kembali ‘kosong’ atau boleh dibilang kita menemukan ‘a new book’.

Saya suka buku, suka menulis, suka mendongeng, dan suka sekali -belajar- ‘menggambar’ -at least but not last- untuk konsumsi anak – anak dibawah asuhan saya. Saat Tuhan mengaruniakan ‘amanah’ terindahnya pada tahun 2008 tepatnya 17 September, saya menemukan ‘something’ new. Anak saya terasa begitu cepat bertambah kecerdasannya, mulai cuma bisa nangis, teriak, dan tidur, pelan namun pasti dia bisa tengkurap, duduk, merangkak, berjalan, dan sekarang sudah bisa berlari dan berkomunikasi. Subhanalloh!

Sejak awal, saya suka sekali mendongeng untuk anak saya, dan hal itu terbantu dengan adanya buku – buku untuk balita -yang kadang- saya buat sendiri. Pada awalnya anak saya cuma suka memegang, merebut, dan melempar, namun saya pantang menyerah, saya lebih suka -nantinya- anak saya akan menjadi kutu buku daripada TV-mania (meski bukan antipati, karena ada banyak program anak – anak yang saya ikuti cukup bagus di beberapa stasiun TV).

Tahapan ‘perkenalan’ anak saya dengan buku :

1. Awal saya kenalkan buku pada anak saya sejak di kandungan, dari inspirasi yang saya dapatkan saya menuliskan naskah – naskah dongeng yang saya dongengkan untuk anak – anak di bawah asuhan saya.
2. Dalam setiap dongeng yang saya ceritakan, suara masing – masing tokoh selalu saya bedakan, dengan intonasi naik turun dan ekspresi sesuai situasi dan kondisi alur cerita.
3. Beberapa hari setelah dia lahir saya suka menceritakan tentang kisah – kisah inspiratif kepadanya.
4. Usia 1 bulan saat dia bisa mengangkat kepalanya saya ‘kenalkan’ dengan buku sebenarnya, dia tersenyum melihat -meski tak sepenuhnya paham-, tapi saya berprasangka baik dia suka.
5. Setelah dia bisa memegang, saya berikan buku padanya, dan dia mulai bersahabat.
6. Setelah dia duduk dan merangkak, dia mulai bisa meraih buku kesukaannya, meski sebatas dilihat, dipegang, dan bahkan dilempar.
7. Usia 1 tahun, saat dia mulai bisa berjalan, hal yang membuat saya ‘surprise’ adalah saat ia membawakan buku kesukaannya ke depan saya dan membuka, serta menunjuk gambarnya sambil berkata ‘tu’ berkali – kali.
8. Hal lain yang saya lakukan adalah mengajaknya ke toko buku sejak dia masih bayi, ke pameran – pameran buku, dan berusaha membelikannya sebuah buku untuk dibacakan kepadanya.
9. Saat anak saya berusia 14 bulan, saat saya bilang ‘sayang, tolong ambil bukumu, ayo kita baca bersama….” Dengan bergegas dia akan mendapatkan bukunya dan duduk di depan saya, membukanya dengan semangat dan menunjuk – nunjuk gambar sambil berkata ‘tu tu tu!’. Terkadang saat dia membaca bagian dimana disitu ada anak yang bersahabat dengan binatang, dia akan mengelus – elus bukunya seperti biasa saya ajarkan. Lucu sekali!
10. Sekarang anak saya berusia 15 bulan, dia suka membawa buku apa saja ke depan saya dan mengulurkannya dengan harapan saya akan membacakan buku itu untuknya meski hanya satu kata. Seumpama saya tak memperhatikannya dia akan ngambeg sampai saya membacakan buku itu untuknya.

Saya percaya setiap anak memiliki begitu banyak kecerdasan yang bisa diasah oleh kita sebagai orangtua. Dan kecerdasan anak tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lain karena mereka memiliki ‘keunikan’ tersendiri.

Ada sebuah kejadian lucu saat saya sekeluarga mengurus paspor ke kantor imigrasi, si kecil yang suka berlarian melihat pamflet di sekitar loket ruang tunggu, dia menunjuk apa saja dengan isyarat ingin dibacakan, jadilah kami keliling dan saya bacakan setiap kata yang ditunjuknya.

Hanya do’a beserta harap dalam setiap aktivitas saya sebagai bunda, semoga kelak si kecil menjadi manusia yang berguna bagi lingkungan sekitarnya, minimal untuk dirinya, amiin….


(diikutsertakan dalam lomba "Cinta Dongen, Cinta Baca")
Diposkan oleh Komunitas Peduli Media (Hiburan) Anak pada 19:09
tag: artikel, cinta dongeng cinta baca