Senin, 24 November 2014
Memoir buat “Mbak Ratna Indraswari Ibrahim”
Lama aku kembali terlelap sehingga segala fisik terasa begitu lelah dan hampir saja merasa ‘kalah’. Namun entah malam ini, serasa begitu syahdu….
Aku mengingatimu mbak! Alfatihah….
Mengenalmu ketika SMA dimana aku belum ‘mengenal diriku’, bukanlah suatu kesia-siaan. Hadiah yang kau berikan terus melekat dihatiku, meskipun entah
dimana obyeknya sekarang. Bukan, iya bukan benda mbak, namun ketulusanmu yang benderang malam ini, semoga Alloh menempatkanmu dalam surga terbaiknya, amiiin….
Aku suka menulis, sejak kecil! Ada banyak catatan kecil sesobek dua sobek yang kutemukan kala bebersih rumah. Harta benda berupa ‘tulisan’ itu adalah teman yang selalu mampu menyalurkan ‘kemarahan terpendam’ masa kecilku.
Ya, sejak kecil aku memendam sejuta kemarahan yang tak tahu harus dibuang kemana. Aku menulis bersayap karena aku tak ingin ada yang tahu kepada siapa sebenarnya kutunjukkan perasaanku. Aku marah, aku benci, aku iri, aku cemburu, aku malu, aku merasa tak mampu dengan segala hal yang kusandang. Dunia seakan selalu memojokkanku.
Dengan mengenalkanmu, mungkin ayah berharap aku bisa besar sepertimu, aku menjadi bermanfaat sepertimu, dan mungkin (kala itu) ayah berharap aku mampu menuang kemarahanku dengan cantik dalam lembar-lembar tulisanku.
Mbak, aku belum bisa sepertimu, tapi ‘nyala’ itu memantik kembali dihatiku.
“Dek, menulislah dari yang paling dekat, ubahlah dengan sedikit imajinasimu….”
Maka akupun mulai menulis. Segala kemarahan meruap, merayap keluar mengisi begitu banyak tempat. Lahirlah cerpen “PULANG”, aku sangat ingin pulang saat itu. Aku ingin menjadi manusia yang ‘utuh’, apa adanya tanpa kepura-puraan, aku ingin menjadi ‘aku’ yang bisa dengan bebas melanggar norma-norma social.
“Bagus, Dek! Terus menulis ya….”
Itu kalimat pertama darimu yang sudah melanglang buana ke penjuru dunia. Aku ingin sepertimu Mbak. Keliling dunia dengan tebaran manfaat.
Namun, rasa malu dan ketidakmampuan ‘mengenal diri sendiri’ itu kembali meninabobokkanku. Aku pun lelap….
Kembali menulis adalah panggilan jiwa, terapi yang bisa membuat kita kembali bertenaga. Maka lahirlah satu persatu tulisanku, meski belum semua mampu menembus media, namun itu telah memenangkanku ‘mengenali diri’, menenangkan kemarahanku agar aku menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Saat ini aku tengah berjalan menuju "rumah"-ku semoga rumah itu berdekatan denganmu.
Semoga kelak akupun bisa sepertimu meski di jalur yang berbeda.
BE YOURSELF
Maturnuwun Mbak Ratna, semoga kau bahagia disana….
Alfatihah….
Rabu, 29 Agustus 2012
Curhatan Nasuha ^_^
Ketika Alloh “menegur”-ku
Selasa, 28 Agustus 2012
Hari ini tak ada yang istimewa, seperti
hari-hari biasa yang kulewati dengan segala ragam kesenangan dan “tekanan” yang
biasa pula kurasakan.
Pagi setelah membersihkan sekolah di tempatku
mengabdikan diri, pulang ke rumah berkutat dengan setumpuk pekerjaan rumah
tangga, dan di tengah hari bersiap dengan perjalanan untuk “takziyah” di daerah
Beji – Batu.
Kami pun meluncur bersama kedua saudara
perempuanku dan Mamaku, bertakziyah sebentar dan aku pun memilih melanjutkan
sendiri karena akan ada acara bersama keluarga suami ba’dha Maghrib, menuju
alun-alun kota Malang.
Turun dari LDG, aku bersiap memasuki masjid
Jami’ kota Malang, meniatkan hati untuk sholat Ashar. Kugandeng tangan si kecil
dengan penuh pengharapan bahwa kelak ia akan mencintai masjid dan akan menjadi
satu dari sekian hambaNYA yang memakmurkan masjid, amin Insyaalloh….
Tidak satu atau dua kali, berkali-kali kami
sholat di masjid itu dan tak terjadi apa-apa, namun hari itu….
Anakku mulai menunjukkan gejala akan pipis,
kutarik ke belakang ternyata kata pengunjung lain toilet pindah ke dekat ruang
wudlu, kuseret anakku dengan cepat sambil memberikan motivasi, “sabar, tahan! Sedikit
lagi….”
Dan….
Jebollah pertahanan anakku hingga dia pipis di
celana, aku kaget dan tercenung sejenak, dia “ngompol” di dekat kotak untuk
membasuh kaki di garis luar yang dekat tempat peminjaman mukena.
Dengan sigap aku berlari ke pengurus masjid
yang menjaga mukena dan berkata, “Ma’af, anak saya pipis di dekat kullah, apa
yang harus saya lakukan untuk membersihkannya?”
Panik! Itu yang saya rasakan….
Di saat panik itu saya dengar satu suara
ibu-ibu penjaga kamar mandi, “Bu, anaknya ngompol di masjid, najis! Bikin najis
semesjid dan blab la bla bla….”
Sampai saya dengar ‘adzab Alloh dibawa-bawa. Maka
saya pun meledak! Saya menangis di depan orang se-mesjid, dan masih ditambah
lagi,“Nguras iku seng soro, makanya kalau punya anak kecil dijaga, jangan
sampai ngompol di masjid!”
Saat itu saya marah, saya pandang orang itu,
saya yang tak pernah suka bertengkar akhirnya menyahut, “Saya akan tanggung
jawab membersihkannya, dia anak saya, marahi saya saja! Nggak usah adzab Alloh
dibawa-bawa!”
Namun ada suara baik menolong saya, “Bu, saya
bantu…. Anaknya diurus dulu. Dilepas celananya masukin kresek dan dicebokin.”
Saya bawa si kecil masuk ke tempat wudlu, saya
lepas celananya sambil terus menangis (entah apa yang saya rasakan saat itu….).
Saya cebokin dan berpesan, “Kamu diam disini sampai bunda kembali….”
Entah teguran apa yang dilewatkan Alloh melalui
mulutnya, wanita itu terus menceracau di ruang wudlu.
“Demi Alloh, saya kesini berniat sholat. Dan tak
ada kesengajaan anak saya buat pipis sembarangan.”
Saya pun kembali ke kullah tempat si kecil tak
sengaja ngompol. Seorang ibu yang baik telah membantu saya menyiram bekas pipis
si kecil, saya bilang “Maaf Bu, dia anak saya biar saya bertanggung jawab.”
Akhirnya si Ibu yang baik memberikan selang air
dan sikat pada saya. Saya pun bekerja dengan deraian air mata, …. Adzab Alloh? Apa
hubungannya dengan si kecil pipis (tanpa sengaja) sama adzab Alloh? Telinga saya
panas, begitu juga dengan hati saya. Ibu yang menegur dengan cara “tak ramah”
(semoga Alloh mengampuni kita, menjernihkan hatiku yang panas karena dipantik
kata-katanya)
Seorang Bapak pengurus masjid jami’ agung kota
Malang datang dan bertanya, “Ada apa?”
Saya yang sedang panas hati menjawab, “Anak
saya pipis tanpa sengaja dan saya akan bertanggungjawab membersihkannya, cukup
ajari saya gimana membersihkan kullah ini.”
Mungkin karena hawa “panas” yang saya bawa,
bapak itu pun menjawab, “Bu, ini rumah Alloh jangan marah-marah disini! Ibu ini
dibantu kok malah marah-marah?”
“Caranya menegur yang saya tidak terima!” tukas
saya cepat.
Setelah selesai dengan menyiram bekas pipis si
kecil dan menguras kullah dengan perasaan tak karuan, akhirnya Bapak pengurus
masjid itu berkata, “Sudah Bu, ditinggal aja biar kami yang menyelesaikan.”
Dengan perasaan malu tak karuan saya kembali
pada si kecil, ada keinginan memarahinya, namun saya takut itu akan mengecilkan
hatinya dan membuatnya “trauma” masuk masjid. Bagaimana mungkin seorang muslim
trauma masuk masjid karena kejadian “sepele” seperti itu? Ya, taruh kata bukan
sepele, bukankah ada cara yang lebih baik untuk mengingatkan saya sebagai
ibunya?
Akhirnya setelah bicara panjang lebar dengan si
kecil, si kecil saya pakaikan jaket saya yang kebesaran untuknya sambil
berusaha menenangkannya. Beruntung dia tidak menangis kencang karena akan
menambah kepanikan saya. Sesekali dia menatap saya dengan pandangan “memelas”
yang menghancurkan hati saya sebagai bundanya.
“Malu….” Dia terdiam sebentar dan kembali
berkata, “malu….”
“Kakak anaknya Bunda, apa pun itu Kakak anaknya
Bunda. Ayo sekarang kita pergi dari sini dan tunggu ayah jemput kita di
alun-alun.
Dengan tanpa celana si kecil saya gendong
keluar dari ruang wudlu (alhamdulillahnya auratnya tertutup karena memakai
jaket saya yang gedombrongan). Saya harus menjauhkannya dari pandangan orang
lain yang akan menghancurkan konsep dirinya. Saya keluarkan uang, “Saya ganti
rugi jika saya dianggap merugikan, saya minta maaf Pak! Mungkin hari ini saya
tak boleh sholat disini.”
“Disini rumah Alloh, jangan marah-marah, Bu!”
“Saya tahu, yang saya tidak terima cara menegur
saya, tidaklah perlu sampai adzab Alloh dibawa-bawa.”
Saya pun pergi, ibu itu (siapa pun nama Anda),
apa tak pernah punya anak kecil? Tapi terimakasih telah membantu saya menangis
dan kembali berkaca tentang “kedirian” kita sebagai hamba.
Bandingkan dengan ini….
Di toko buku, saya pernah melihat seorang anak
mengompol, ibunya membersihkan bekas ompol si anak dan penjaga toko tanpa
banyak bicara melanjutkan dengan mengepel lantainya.
Di sekolah, ketika seorang anak menangis malu
karena mengompol seorang guru menenangkannya dengan kasih sayang, membantunya
membersihkan diri dan memberikannya pakaian ganti.
Di masjid? Tak seorang pun membantu anak saya
ketika harus berdiri sendiri di ruang wudlu (bahkan saya khawatir ibu itu pun
masih menceracau di depan si kecil), apakah kita sudah muslim Bu?
Di alun-alun….
“Kenapa bisa kakak pipis di celana?”
Si kecil hanya menjawab patah-patah, “Malu….
Malu….”
Hatiku semakin hancur melihatnya. Sekuat mungkin
kutahan aku tak boleh marah, ini pengalaman pertama kami mengalami hal ini.
“Bunda nangis?”
“Bunda sedih, malu karena tak bisa mengurus
kakak dengan baik….”
“Aku malu….”
“Kalau malu kenapa tak bisa (ngempet) menahan?”
“Aku sudah gak kuat….”
Maka tanpa mampu kubendung, maka menangislah
sepuas-puasnya tanpa memperdulikan pandangan orang yang lalu lalang.
Maka hikmah itu….
Tak ada seorang pun yang menyiapkan diri untuk
sebuah “teguran”, maka setelah semalaman “menangis” sambil mengaca diri, maka
saya putuskan menulis kisah ini dan berbagi disini agar pengalaman saya ini
bisa jadi “pelajaran” buat semuanya.
Untuk saya, semoga saya lebih berhati-hati
menjaga si kecil dalam masa perkembangannya.
Untuk teman-teman lain juga.
Untuk pengurus masjid semoga bisa menegur “pelaku”
(anggap saja begitu) dengan lebih sopan dan beradab. Semoga Alloh memberikan
ampunan buat saya (jika belum layak menyematkan predikat sebagai Bunda), buat
siapapun yang membaca ini semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mengambil
hikmah positif dibalik setiap kejadian.
See u at the other story, Insyaalloh J
Sabtu, 07 April 2012
Cerpen Anak Pertamaku yang tembus media tahun 2005
Mata Pena
Hari ini Rusdi datang dengan menenteng kotak pena baru, dengan bangga dia
memamerkan kotak pena itu pada teman – temannya. Semua temannya sangat menyukai
benda yang berada didalamnya. Kotak pena itu terasa istimewa karena hanya
berisi sebuah pena saja. Pena yang sangat bagus, berwarna biru metalik dengan
pelet keemasan, semuanya merasa sangat suka.
Ada Dania yang cerewet, Dodi yang suka sekali ngisengin teman, Danu yang
baik hati, Lastri yang suka sekali membawa bekal mi buat makan siang di sekolah,
bahkan Livia yang tak pernah perduli dengan apapun yang terjadi di
sekelilingnya ikut berebut melihat kotak pena Rusdi.
"Bagus sekali kotak penamu Rus?" ucap Dania.
"Jelas dong! Punya Rusdi!"
"Dapat hadiah ya?" kata Danu menimpali.
"Iya! Kemarin Papaku datang dari Australi, nah aku dibawa-in oleh –
oleh ini, coba kalian lihat dengan seksama, lihat!" ujar Rusdi sambil
menunjuk ke arah batang pena yang berwarna biru.
Semua mata melihatnya dengan penasaran, Rusdi mengambilnya dan menggerak –
gerakkan secara memutar, semua mata itu masih mencari – cari keistimewaan yang
diceritakan oleh Rusdi.
"Apanya yang istimewa?" seru Livia.
"Wah, kalian tidak lihat ya? Ada gambar kanggurunya yang kelihatan
hanya jika tertimpa cahaya."
"Wow!" semua mulut terbuka menyerukan keheranannya.
Rusdi semakin senang melihat ketakjuban teman – temannya pada pena barunya.
"Bolehkah kami melihatnya dari dekat?" tanya Lastri.
Maka Rusdi pun dengan bangga mendekatkan pena itu ke pandangan teman –
temannya sembari terus memutar – mutarnya, agar gambar kangguru itu terlihat
pula oleh mereka.
"Woooooo..... benar! Pena-mu benar – benar bagus dech Rus!" seru
Livia dipenuhi rasa takjub.
Rusdi tertawa senang, "Terimakasih Livia!" serunya.
Selesai memuji keindahan pena Rusdi, Livia pun duduk kembali di bangkunya,
ia pun mulai membayangkan kalau saja papanya akan berdinas ke Australia juga,
maka ia akan memesan pena beserta kotaknya yang cantik seperti punya Rusdi.
Hanya saja ia akan memilih warna favoritnya, merah muda!
"Rusdi!"
"Ya, Livia! Ada apa?"
"Apakah ada pena seperti yang kau punya berwarna merah muda?"
"Wah, aku tidak tahu Livia, coba nanti pas aku pulang akan kutanyakan
sama Papa, adakah pena seperti milikku yang berwarna merah muda."
"Terimakasih ya Rus. Aku suka sekali melihat penamu!"
"Hei, Livia! Apa kamu juga ingin punya pena seperti punya Rusdi?"
teriak Dodi setelah diam – diam ikut mencuri dengar pembicaraan Livia dan
Rusdi.
"Tentu saja! Jika Papa punya kesempatan untuk dinas ke Australia aku
pasti akan memesan oleh – oleh seperti punya Rusdi! Gak apa – apa kan Rus?"
"Tentu saja tidak apa – apa!"
Dengan gusar Dodi meninggalkan mereka berdua.
Suasana gaduh terjadi seusai istirahat saat Rusdi mencari – cari kotak penanya
yang baru, dia begitu panik tak menjumpai benda kesayangannya di dalam tas, di
laci meja, dan dengan tergesa ia pun melapor kepada Guru pengasuh akan
kehilangan kotak penanya.
Mendapat laporan itu, Guru piket langsung menuju kelas Rusdi, semua anak
ikut panik dan ketakutan. Untunglah hari itu yang bertugas adalah Pak Fadlan
Guru olahraga mereka yang baik hati.
"Baik anak – anak! Letakkan semua tas di atas meja kalian...."
Serentak semua anak meletakkan tas-nya di atas meja. "Kalian berbaris
di samping tempat duduk kalian masing – masing!"
Harap – harap cemas mereka ingin segera mengetahui siapakah yang telah
berbuat jahat pada Rusdi, menyembunyikan atau bahkan mencuri kotak pena Rusdi
beserta penanya. Pak Fadlan berjalan dengan gagah melihat satu per satu tas
anak – anak hingga sampailah ke meja Livia, lihat! Kotak pena itu ditemukan!
Livia tergeragap, ia tak merasa mencurinya, apalagi menyimpan dalam tasnya.
"Tidak! Aku tidak mencurinya!" teriak Livia.
"Tetapi bagaimana mungkin kotak pena Rusdi bisa sampai ke dalam
tasmu?" tanya Pak Fadlan bijaksana.
Livia sudah menangis jengkel karena merasa tak bersalah. "Rusdi, coba
lihat apakah benar ini pena milikmu?"
Rusdi dengan tatapan mata bingung mendekat ke Pak Fadlan dan menyambut
kotak penanya. Dilihatnya pena itu seperti habis dipakai dan lupa memencetnya
sehingga mata pena itu masih menyembul keluar. Rusdi berbisik – bisik dengan
Pak Fadlan, Livia sudah sesenggukan menekurkan kepalanya di atas meja. Pak
Fadlan mengangguk – angguk, "Anak – anak, sekarang coba perlihatkan tangan
kalian semua, biar Bapak memeriksa satu per satu."
Yang pertama mendapat giliran adalah Livi, dengan lemas Livia mengangkat
tangannya, Pak Fadlan terus berjalan hingga sampai di meja Dodi, dengan senyum
– senyum nakal setengah mengejek dia memperlihatkan tangannya.
"Tanganmu penuh coretan pena ya?"
Dodi terkejut sekali mendengar pertanyaan Rusdi. Dilihatnya tangan yang
lupa dibersihkan, tertunduklah dia karena merasa malu dan ketahuan. "Kamu
tau kalau mata penanya lupa kau masukkan lagi, jadi aku bisa bayangkan kalau
penaku habis dipakai, dan yang memakainya adalah pencuri itu!"
"Maafkan aku...."
"Dodi, kau tak boleh memfitnah Livia, kau juga harus meminta maaf
padanya. Untung, Rusdi cerdas sehingga kita bisa segera membersihkan nama
Livia. Na, sekarang hukuman buat Dodi adalah mengepel
kelas setiap pulang sekolah selama satu minggu J."
Semua
anak tertawa senang, Dodi diam terpekur menekuri kesalahannya. Livia kembali
tersenyum, dan Rusdi merasa senang karena sudah berhasil memberi pelajaran pada
Dodi.
Kamis, 05 April 2012
Sabtu, 03 Maret 2012
Bagaimana kisahku menjadi “Pendongeng”
Bismillah….
Membayar hutang janji men-“share” tentang
mendongeng, maka ijinkanlah saya untuk ciap-ciap sedikit pengalaman yang saya
punya tentang bagaimana saya menjadi pendongeng, hallah!
Tak pernah terbayang di benak saya akhirnya
Alloh menghantarkan saya untuk sampai disini, bahkan berani melabelli diri
dengan “DORA-Dongeng Bersama Bunda Mora” – 2010, dan akhirnya saya putuskan
mengganti BRAND menjadi “Dongeng Bunda Mora saja” – 2012.
Melayangkan ingatan di masa kecil, tumbuh
berbeda dalam keluarga, selalu dipertanyakan kenapa “berbeda” dari
saudara-saudara yang lain membuat “sensitifitas” meninggi. Tak mampu curhat,
akhirnya jatuh cinta pada sandiwara radio “Brama Kumbara”, heheheh! (sebab ada
tokoh yang selalu malang disitu, aih!).
Radio temanku!
Setiap sore (sayangnya lupa radio apa?) selalu
mengudarakan dongeng macam keong emas,ande-ande lumut, timun emas, dll. Menarik! Inspiring! Secara
tidak sadar saya diajari “bercakap-cakap” dengan diri saya sendiri (tanpa suara
alias dalam hati).
Di SDI Al-Maarif 02 saat itu juga sering
memutarkan kaset yang berisi cerita-cerita yang seperti tersebut di atas. Jadilah
keong emas dan ande-ande lumut cerita favorit saya hingga saat ini (walaupun
belum pernah saya dongengkan ketika di atas panggung).
Ketika SMP, pernah mencoba mengikuti lomba
cerita dll, kalah mental melihat begitu banyak pesaing yang ayu-ayu, hehehe! Maka
sejak itu sedikit terlupakan.
Pada waktu SMA juga tak pernah berfikir kesana,
hingga….
1997!
Saya kuliah dan menjadi ustadzah di TPQ-TPQ
pinggir kali, mulailah saya mengisahkan hikmah berdasarkan “Riyadhus Sholihin”
dan kitab-kitab lain.
Saya mulai melihat perbedaan. Kata teman-teman,
setiap kali saya yang membuka majelis anak-anak akan diam memperhatikan,
benarkah?!
Kembali pada radio, akhirnya ANDALUS menjadi
pilihan saya menimba ilmu, ada kisah-kisah penuh hikmah yang diudarakannya
setiap hari, gaya bertuturnya elok dan lembut, iringan musiknya juga
menghanyutkan. Saya pun mulai menirunya.
Saya usung tape kecil dan mulai beroperasi di
Musholla desa (boleh, kan?) yang waktu itu “sepi” pengunjung anak-anak. Setiap sore!
Satu demi satu anak-anak datang, mereka menyimak kisah yang saya sampaikan, dan
dimulailah TPQ baru dibawah komando teman-teman REMUS dimotori saya, hehehe!
2004
Seorang teman yang melihat bagaimana saya mampu
mengendalikan anak-anak mengajak saya membuka PAUD, saya pun menyambutnya
dengan senang, karena dunia masa depan akan dipenuhi anak-anak saat ini,
jadilah saya memakai “peran” dalam mengusung pembelajaran. Saya tertatih-tatih
karena background pendidikan saya yang jauh menyimpang. Namun “cinta”
berrbicara hingga dengan segenap usaha saya terus belajar untuk “bisa”, dalam
hal apa pun yang berhubungan dengan proses belajar mengajar, walaupun sampai
saat ini masih sering terseok-seok.
Di tahun ini saya mengenal 3 karakter suara
(suara kecil, suara besar, dan suara saya sendiri). Maka ketika RRI mengadakan
lomba dongeng, saya memberanikan ikut dan saat “evaluasi” (karena Technical
Meeting tak hadir), tahulah saya kalau saya telah menyajikan “cerita”, bukan “dongeng”.
Dari segi intonasi, ekspresi, dan penguasaan semua bagus, sayangnya pilihan
saya cerita, begitulah kira-kira yang disampaikan pada saya. Gagal! Namun tak
patah arang ^_^.
2005
Mencoba kembali pada jalur pendidikan ketika
kuliah, berusaha menggapai “impian” lain, namun di tengah-tengah perjalanan
kembali Alloh “menyentuh” saya dengan dunia anak-anak, memegang “outbond” anak
dan kembali “mendongeng” sungguh mengasyikkan!
Saya putuskan kembali pulang dan masuk di
LPGTKIT selama setahun. Bertemulah saya dengan pendongeng senior kota Malang “Kak
Rohmat”. Belajar kepadanya dan kepada Murid seniornya membuat saya semakin PD
mengolah semua kemampuan saya, prinsip TAK ADA YANG TAK BISA ASAL KITA MAU
USAHA pun saya terapkan dalam berbagai kesempatan. Saya ibarat spon yang
menyerap begitu banyak air untuk bekal “perjalanan” panjang saya.
2006
Memutuskan untuk mengabdikan diri di RA Baitul
Mu’minin, mulailah saya berteman banyak boneka dan berusaha mengenal karakter
suara yang lain.
Bebek, Ayam, Anjing, dll! (Satu poin penting,
karena masih belajar. Saya selalu mengingatnya dengan menyuarakan suara aslinya
dulu agar tak salah menyampaikan. Missal: Bebek berkata, “Kwek! Kwek! Ada apa? –
dengan suara cempreng kejepit. Dst.).
Saya juga mulai menerima beberapa panggilan “mendongeng”
meski tanpa “uang saku” kala itu, Alhamdulillah!
2008
Man Jadda wa jadda! Kesukaan mendongeng saya
mendapat apresiasi yang baik saat mengikuti lomba guru RA tingkat Kabupaten
dengan menyabet kesempatan menjadi juara I (How Lucky I am! Alhamdulillah!). Namun
di atas langit masih ada langit! Saya gagal di Propinsi, tak patah arang!
Saya juga tetap menerima job “mendongeng” ke
sekolah-sekolah dan even-even lain, bahkan ada yang privat hingga berkesempatan
meraih juara I tingkat Jatim.
2009
Terus mendongeng, berkisah, dan mulai membawa “berkah”
melimpah, amiiin….
2010
Ada seorang teman menjadi guru Broadcast di SMK
menggandeng saya untuk program dongeng TV komunitas mereka, maka meluncurlah
program DORA dengan penuh suka cita.
2011
Saya tetap mendongeng
2012
Saya akan tetap mendongeng sampai -Insyaalloh- tutup usia.
Itu kisahnya, lantas ilmu “cethek” yang ingin
saya bagikan adalah sbb:
ð Pertama kali yang harus dipunyai seorang pendongeng :
1.
NIAT.
Ada banyak teman sepantaran sayadi
dunia pendidikan anak yang selalu
mengatakan tak bisa, maka saya tak hendak banyak kata tapi meniatkan bahwa SAYA
BISA!
2.
MAU
MENCOBA.
Tak ada salahnya mencoba, grogi,
demam panggung, dan banyak kekhawatiran lain yang harus dienyahkan. Cobalah apapun
hasilnya.
3.
PERCAYA
DIRI.
Percaya Diri adalah setengah
keberhasilan, dengan PD kita akan mampu melewati tantangan dan hambatan dalam
mendongeng.
4.
MULAI
BERAKSI
Mulai sekarang juga, jangan tunggu
menjadi ahlinya karena kita akan terus belajar di sepanjang perjalanan kita.
ð Kedua kalinya adalah mempersiapkan diri dengan :
1.
Menguasai
cerita dan jalan ceritanya.
5W 1H, yuk disimak!
- What?
Apa yang kita sampaikan pada
audiens? Cerita atau dongeng, dan tentang apa?
- Who?
Siapa yang ada di depan kita? Anak TK,
SD, atau bahkan SMP? Libatkan mereka dalam cerita
- Where?
Dimana kita menyampaikannya?
Sekolah, even lomba, TPQ? Pasti akan berbeda cerita yang akan kita sampaikan
pada mereka.
- Why?
Mengapa kita menyampaikannya,
mengenalkan karakter yang baik, menanamkan nilai tanpa sadar, memberi contoh
tanpa menggurui, dst.
- How?
Bagaimana menyampaikannya? Tanpa peraga,
dengan peraga, dengan buku teks. Akan berbeda pula cara menyampaikannya.
2.
Mengolah
karakter suara
Ada banyak yang mengajarkan
setidaknya kita menguasai 5 karakter suara, maka bagaimana cara memperoleh dan
menguasainya?
1. Suara asli kita, asal kita punya
suara pasti bisa bercerita.
2. Suara kecil, bisa kita kelola dengan
mengecilkan suara dengan menjepit pita suara di tenggorokan (begitu kali ya? Yang
pasti saat suara kecil saya tenggorokan serasa disempitkan ^_^)
3. Suara besar, bisa kita peroleh
dengan pernafasan perut dan mengembangkan pita suara.
4. Suara Kakek dan Nenek, bisa kita
peroleh dengan memasukkan semua bibir ke dalam mulut.
5. Suara binatang, bisa kita kelola
dengan mengenal suara aslinya lebih dulu
6. Selamat berlatih
3.
Memperhatikan
intonasi suara
Intonasi adalah lagu suara,
menguasai lagu suara sangat membantu menghantar sebuah cerita/dongeng dengan
menarik, naik turun! Berbisik dan berteriak jelas berbeda. Berbicara lembut dan
kasar juga berbeda.
4.
Mengelola
ekspresi wajah dan tubuh
Ekspresi mengajak anak menghayati
alur cerita. Bagaimana mengelola wajah
sedih dengan sikap tubuh yang mendukung. Menampilkan wajah ceria dengan sikap
tubuh yang mempesona, dan banyak lagi lainnya! Semua itu akan mengajak anak “mengalir”
bersama cerita kita,
5.
Praktekkan
dengan hati dan cinta
“Hati” akan berbicara tentang hal baik
dan indah, “cinta” memberikan segalanya tanpa syarat, maka inilah pendongeng
yang tepat untuk anak-anak.
6.
Improvisasi
dan Inovasi
Bekali dengan banyak lagu dan tepuk,
sesuaikan dengan cerita, dan bersiaplah untuk banyak tantangan meskipun di
depan penyampaian dongeng kita sudah memberi aturan ^_^.
7.
Selamat
mencoba ^_^
Ada banyak kekurangan dalam tulisan ini maka
maafkanlah yang kurang dan ambillah yang baik dan bermanfaat. Mungkin Bunda Wiwik
“dongeng” Puspitasari dapat menambahkan dengan lebih baik dan lebih banyak. Karena
beliau telah beberapa kali menyabet gelar pendongeng Nasional ^_^.
Selamat mencoba teman-teman, sungguh saya
menyukai dunia anak sepenuh “hati” dan cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)